Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Mengenal Banjir Bandang dan Makna Budaya

Refleksi Kebudayaan dan Bencana Alam dalam Sastra dan Seni

Kata-kata yang dibacakan oleh penyair Porman Wilson Manalu, “Tragedi Pohon,” pada malam hari Minggu, 14 Desember 2025 di Teater Terbuka Taman Budaya Medan (TBM), menggambarkan kepedihan alam yang terancam. Pohon-pohon yang mati atau sekarat menjadi simbol dari kerusakan lingkungan yang tidak disadari oleh masyarakat. Dalam sajaknya, ia menyampaikan pesan tentang hilangnya kehidupan tanpa upacara, seperti yang sering terjadi ketika bencana melanda.

Penyair Idris Pasaribu juga memberikan kritik tajam lewat sajaknya berjudul “Jakarta.” Ia menyoroti bagaimana Jakarta, pusat kekuasaan, telah menjadi lebih kolonial daripada masa penjajahan Belanda. Dalam sajaknya, ia memperlihatkan dampak buruk dari penggundulan hutan yang menyebabkan banjir bandang dan korban jiwa. Meski demikian, ia tetap membawa pesan harapan bahwa kebudayaan bisa menjadi jalan untuk menyadarkan manusia akan dosa-dosanya.

Teja Purnama Lubis memperkenalkan sajak “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, yang mengungkap kerusakan alam akibat tindakan manusia. Dari udara abu-abu hingga bencana alam yang terus-menerus datang, sajak ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan lingkungan. Di akhir sajak, Teja merintih memohon ampunan dan kearifan untuk memahami makna dari “seribu tanda.”

Banyak seniman lain turut serta dalam ekspresi kesenian yang berkaitan dengan bencana alam. Mereka memvisualisasikan kejadian-kejadian tersebut melalui teater, musik, tari, dan seni rupa. Grup teater “Medan Teater” yang digawangi oleh Munawar Lubis memparodikan komunikasi publik para pejabat yang buruk. Mereka mengkritik janji-janji yang tidak terpenuhi, seperti janji listrik PLN yang tidak benar-benar menyala. Para pejabat itu kemudian meminta maaf, namun situasi tetap pahit walau kadang lucu.

Dalam pidato kebudayaan, penulis memparodikan istilah “kebuayaan” sebagai transformasi dari kebudayaan yang seharusnya baik menjadi buruk. Perusahaan-perusahaan besar yang menggunduli hutan tidak memerlukan izin, tidak membayar pajak, dan bahkan tidak memiliki CSR. Mereka hanya peduli pada uang, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Ini disebut sebagai “serakahnomic” yang tidak ada dalam ilmu ekonomi.

Kebudayaan sering disalahpahami sebagai kesenian belaka, padahal ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Selo Soemardjan dan E. B. Taylor menjelaskan bahwa kebudayaan adalah hasil dari karya, cipta, dan rasa masyarakat. Kesadaran akan kebudayaan sangat penting untuk membangun peradaban yang maju dan harmonis.

Peradaban yang Tidak Seimbang

Peradaban adalah hasil dari proses kebudayaan yang tinggi, halus, dan indah. Namun, jika kebudayaan telah “berselemak-peak” dengan “kebuayaan,” maka peradaban akan sulit berkembang. Kebudayaan harus menjadi dasar dari segala aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai, tatanan, dan seni budaya.

Fenomena korupsi masih marak meskipun banyak orang dihukum. Orang lebih suka berpikir tentang hal-hal pragmatis seperti proyek dan uang, bukan tentang nilai-nilai yang lebih mendalam. Kota Medan pun tidak memiliki gedung kesenian yang representatif, sehingga fasilitas kebudayaan kurang diperhatikan. Gedung pertunjukan Taman Budaya Medan (TBM) memiliki sistem akustik yang buruk dan atap yang rentan bocor saat hujan.

Kota Medan memiliki banyak pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan mini market, tetapi sedikit sekali fasilitas kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kesenian dan kebudayaan dianggap tidak penting. Padahal, kesenian dan kebudayaan dapat menjadi bisnis yang menghasilkan lapangan kerja dan daya tarik bagi wisatawan.

Meskipun sarana kebudayaan minim, Konsorsium Seniman Medan (KSM) tetap menggelar acara seni seperti Pesta Seni Medan. Acara ini menunjukkan potensi kesenian kuat di Medan, yang perlu didukung dengan dana dan infrastruktur yang memadai.

Harapan untuk Masa Depan

Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, mengunjungi Kementerian Kebudayaan untuk membahas revitalisasi Taman Budaya Medan. Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyatakan bahwa TBM perlu mendapatkan perhatian serius agar menjadi ruang representatif bagi para pelaku seni dan budaya. Zakiyuddin menyatakan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan untuk revitalisasi TBM.

Ekspresi kesenian dari anak-anak Sasude (Sanggar Anak Sungai Deli) juga membuat penulis terharu. Mereka menampilkan tarian dan lagu yang menggelitik emosi manusia. Dalam hati penulis, ia merenung bahwa jika penduduk Indonesia hanya terdiri dari “anak-anak,” maka tidak akan ada korupsi, banjir, atau kejahatan ekonomi.

Donasi yang terkumpul selama dua malam berjumlah sekitar Rp55 juta, yang akan didistribusikan kepada korban bencana alam dan para seniman yang terdampak. Penulis ingin mengutip Irving Stone yang menyatakan bahwa kesenian adalah kebutuhan pokok manusia seperti roti atau mantel hangat di musim dingin. Kesenian bukanlah barang mewah, tetapi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.***

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *