Tantangan Komunikasi dalam Mengelola Karyawan Tuli di Kawan Tuli Coffee
Komunikasi menjadi tantangan utama dalam mengelola karyawan tuli di Kawan Tuli Coffee. Sebagai co-founder, Florentino Bintang menghadapi berbagai hambatan dalam menjalin hubungan kerja yang efektif dengan timnya. Meski ada kendala dan kenaikan harga bahan baku, usaha ini tetap berjalan stabil dengan pendekatan personal dan komitmen terhadap misi sosial.
Kesulitan dalam Berkomunikasi
Dalam operasional sehari-hari, perbedaan cara berinteraksi menjadi hambatan utama yang harus diatasi secara perlahan. Florentino mengakui bahwa membangun komunikasi efektif bukan perkara mudah, terutama saat harus memastikan seluruh tim memahami instruksi kerja dengan baik. Ia menyadari bahwa rapat bulanan sering kali menjadi PR karena kesulitan dalam menyampaikan informasi.
“Rapat bulanan komunikasi tetap PR. Makanya saya sendiri di sini dampingi mereka saya harus belajar bahasa isyarat. Di bulan keenam udah bisa otomatis. Kalau misal ada sesuatu laporan. 3 bulan pertama saya harus intens daily untuk pantau,” jelasnya.
Persaingan dan Kenaikan Harga Bahan Baku
Di tengah tantangan tersebut, bisnis coffee shop ini tetap berjalan di tengah persaingan ketat di Kota Solo yang dipenuhi kedai kopi. Antusiasme masyarakat cukup baik, meskipun kompetisi di Kota Solo sangat ketat. “Sepanjang Slamet Riyadi kopi semua,” ujarnya.
Tekanan lain datang dari kenaikan harga bahan baku, terutama biji kopi yang melonjak hingga 40 persen. Kondisi ini membuat manajemen mulai mempertimbangkan penyesuaian harga menu. “Biji kopinya sendiri bisa sampai 40 persen naiknya. Minyak naik semuanya naik. Kita pertimbangankan untuk adjust,” terangnya.
Pemberdayaan Karyawan Tuli
Meski begitu, pihaknya tetap berupaya menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memberdayakan karyawan tuli. Saat ini terdapat enam karyawan tuli yang bekerja, dengan tambahan tenaga bantuan saat akhir pekan. “Tapi kita masih bisa puji tuhannya empower 6 karyawan walaupun mereka semua masih magang. Mereka nggak full 8 jam. Kekuatan emosional dan fisik berbeda. Banyak yang introvert dan jarang keluar. Ketemu orang capek. Total ada 6 orang plus 2 helper kalau weekend. Sudah bisa dibilang layak. Kita ambilnya pro-rate UMR kita potong hari masuk berapa jam,” jelasnya.
Performa Penjualan dan Operasional
Dari sisi penjualan, ratusan minuman mampu terjual setiap hari, bahkan bisa melonjak saat momen tertentu. “Kalau untuk per pcs random. Hari Rabu bukan tanggal merah bukan libur tapi tiba-tiba rame. 400 pcs minuman. Weekend standard 500 pcs. Tapi pernah peak grand opening hampir 2000. Harga menu mulai dari 12-34 ribu,” terangnya.
Namun, kendala komunikasi juga berdampak pada operasional harian, termasuk dalam penerapan standar kerja. “Kadang-kadang mereka juga daily operation lupa resep, lupa tanya, lupa interaksi. Salah satu SOP interaksi. Barista harus ngobrol dengan customer,” jelasnya.
Pendekatan Personal untuk Hubungan Kerja yang Harmonis
Untuk mengatasi hal tersebut, Florentino memilih pendekatan personal agar hubungan kerja lebih harmonis dan saling memahami. “3 bulan awal aku kasih masukan nangis tahunya marah padahal enggak. Pendekatan personal. Kadang-kadang spend time untuk barista saya ajak ngobrol. Kadang ada masalah yang dihadapi nggak di rumah. Kalau pun ada konflik kita selesaikan dengan baik,” jelasnya.
Di balik berbagai tantangan itu, Kawan Tuli Coffee and Space terus berupaya bertahan, menggabungkan semangat bisnis dengan misi sosial dalam memberdayakan komunitas tuli.











