Keluhan Orang Tua Terhadap Menu Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan
Beberapa orang tua di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyampaikan keluhan terkait isi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka selama Ramadan. Menurut Kurniasih (37), salah satu orang tua yang mengeluh, menu makanan yang dibagikan tidak sesuai dengan standar gizi yang seharusnya.
Isi Paket MBG yang Mengkhawatirkan
Kurniasih mengungkapkan bahwa anaknya yang duduk di bangku SMP pernah menerima satu potong bolu pasar, empat butir kurma, serta tiga potong kecil ubi rebus dengan gula aren. Sementara itu, anaknya yang masih SD pernah mendapatkan dua butir kurma, onigiri, dan telur kukus. Meski beberapa menu terlihat cukup baik, Kurniasih menilai bahwa kualitas makanan sering kali tidak memenuhi harapan.
“Yang ini masih lumayan ada telur. Tapi pernah juga cuma dapat kue pai kering satu buah dan susu kemasan. Bahkan ada yang hanya empat kue kering seperti sajian Lebaran basah,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pembagian makanan pada siang hari saat siswa menjalankan ibadah puasa menimbulkan masalah tersendiri. “Kenapa harus dibagikan saat anak-anak puasa? Mereka jadi tergoda untuk buka di sekolah,” katanya.
Masalah Porsi dan Kualitas Makanan
Menurut Kurniasih, porsi makanan relatif kecil. Kurma yang hampir selalu menjadi menu utama pun, menurutnya, kerap dalam kondisi kering dan kurang segar. “Biasanya cuma tiga sampai empat butir. Kadang kurmanya sudah sekering itu, kurang layak dimakan,” ungkapnya.
Selain itu, Kurniasih mengaku beberapa kali melihat makanan yang diterima anaknya termasuk makanan olahan atau ultra processed food (UPF). Padahal, menurutnya, program MBG seharusnya mengutamakan makanan segar dengan kandungan gizi yang jelas.
“Saya tidak tahu takaran gizinya di mana. Protein berapa, karbohidrat berapa. Tidak ada penjelasan,” katanya.
Menu yang Beragam tapi Tidak Memadai
Keluhan serupa disampaikan oleh Rahayu (33), warga Semabung Lama, Pangkalpinang. Ia mengatakan anaknya yang duduk di bangku SD juga setiap hari menerima paket MBG selama Ramadan. Menurutnya, menu yang diterima cukup beragam, tetapi sebagian besar berupa makanan ringan.
“Macam-macam sih, tapi yang sering itu kue kering tiga buah sama kurma. Kadang dapat susu kemasan, pernah juga telur puyuh tiga butir,” kata Rahayu.
Ia juga mengaku sempat heran dengan beberapa menu yang diterima anaknya. “Aneh memang, kadang ada juga olahan ayam seperti pempek. Pernah juga dapat brownies,” ujarnya.
Namun, makanan tersebut kerap tidak dimakan oleh anaknya. “Biasanya tidak dimakan. Kadang malah lupa dikeluarkan dari tas. Pernah juga dibuang karena tidak tertarik,” katanya.
Penyelenggara Program MBG
Program MBG dijalankan berdasarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026 yang diterbitkan Badan Gizi Nasional terkait pelayanan MBG selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam aturan tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan menggunakan tote bag untuk pengemasan makanan serta menerapkan standar operasional keamanan pangan, termasuk pengecekan masa kedaluwarsa dan izin edar seperti PIRT.
Menu MBG juga secara tegas dilarang berupa makanan kemasan pabrikan atau ultra processed food. Penyelenggara bahkan diminta menyediakan dua tas jinjing berbeda warna bagi setiap penerima manfaat sebagai sistem tukar harian guna menjaga kebersihan distribusi.
Penjelasan Mitra SPPG
Mitra SPPG Air Seruk, Anjas Ansari, menjelaskan penyusunan menu MBG selama Ramadan telah melalui berbagai pertimbangan, mulai dari biaya makanan (foodcost), waktu konsumsi, hingga kesesuaian menu dengan usia penerima manfaat.
Menurutnya, terdapat perbedaan porsi antara penerima kategori kecil dan besar. “Menu itu ada porsi kecil dan porsi besar. Porsi kecil untuk TK, PAUD, balita, serta siswa SD kelas 1 sampai 3. Sedangkan porsi besar untuk SD kelas 4 sampai SMA,” ujar Anjas.
Berdasarkan ketetapan Badan Gizi Nasional, biaya makanan untuk porsi kecil sebesar Rp8.000 per paket, sementara porsi besar Rp10.000. Ia menambahkan, menu kering selama Ramadan dipilih agar tetap layak dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
“Menu kering ini menyesuaikan jam makan. Jangan sampai ketika waktu berbuka puasa makanan itu tidak bisa dimakan atau sudah tidak layak,” katanya.
Menurut Anjas, penyusunan menu juga mempertimbangkan kecocokan bahan makanan, ketersediaan bahan lokal, serta kemungkinan alergi pada penerima manfaat.
“Tidak serta merta ditentukan ahli gizi lalu langsung dimasak. Ada diskusi antara ahli gizi, akuntan yang menghitung foodcost, mitra pelaksana, hingga kepala SPPG sebelum diputuskan,” ujarnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











