Sebagai pengguna media sosial, hari-hari saya hampir selalu dihabiskan di berbagai platform. Sebagai anggota agensi kreator, saya memiliki jadwal posting konten yang harus dipenuhi, terutama dengan tema F&B. Hal ini memaksa saya untuk rajin mengedit video agar konten tetap menarik.
Untuk menghindari kebosanan, setiap video dengan tema serupa diberi sentuhan unik. Entah itu narasi, sudut pengambilan gambar, filter, tone warna, atau hal-hal lainnya. Tujuannya adalah agar pesan yang disampaikan bisa sampai dan menarik minat audiens untuk berbelanja.
Karena seringnya mengedit video, saya juga pernah mengalami kebuntuan ide. Beberapa footage yang sudah disiapkan tidak bisa langsung digunakan karena pikiran sedang kosong. Maka dari itu, saya biasanya meluangkan waktu untuk scrolling berbagai konten di timeline media sosial.
Dari sana, saya tidak hanya mendapatkan ide untuk video, tetapi juga ide tulisan. Saya sedang mencoba mengasah kemampuan menulis agar pikiran tetap tajam dan tidak mudah lupa. Biasanya, ide yang muncul segera saya catat agar tidak hilang dari ingatan. Tulisan ini lahir dari salah satu video yang saya tonton.
Video tersebut menceritakan tentang pasangan muda yang kehilangan suami dalam empat tahun pernikahan. Dari caption yang ditulis, terlihat betapa besar cinta istri kepada suaminya. Saya menampilkan bagian awal dari caption tersebut:
“01 Januari 2026, awal tahun yang tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku. Aku kehilangan suami, sahabat, teman hidupku untuk selama lamanya tanpa ada kata ‘Pamit’. Hari ini tepat 7 hari kepergianmu, pertama kalinya kamu ninggalin aku dalam waktu yang lama, selama 4 tahun pernikahan kita. Selama ini kamu selalu memperlakukanku seperti ratu. Selalu berkata, ‘iya sayang’, ‘aku aja, kamu ga usah capek-capek’, ‘aku yang antar jemput kamu terus’.”
Akun @f***b
Membaca bagian awal saja, saya sudah bisa merasakan besarnya rasa kehilangan yang dirasakan oleh istri tersebut. Perasaan ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang sangat dicintai.
Ternyata, almarhum telah menjadi suami yang sangat dibanggakan oleh istri. Sepengalaman saya, empat tahun pernikahan masuk masa adaptasi. Pada masa ini, pasangan sudah saling mengenal satu sama lain secara penuh. Jika tahun pertama dan kedua berjalan baik, toleransi dan saling memahami mulai tertanam.
Empat tahun hidup bersama, sifat asli akan mulai terlihat. Bagi yang kasar, mungkin mulai membentak dan menghardik. Yang emosional dan suka main tangan, bisa saja telapak tangan yang ringan sering menyentuh. Namun, keberadaan almarhum membuat istri merasa dilindungi dan dihargai.
Melalui caption, tergambar betapa almarhum adalah suami yang lembut, perhatian, bertanggung jawab, dan selalu melindungi istri. Setelah meninggal, ia dikenang karena kebaikannya oleh keluarga dan anak-anak. Rasa kehilangan yang sangat menunjukkan bahwa ia sangat berkesan di hati istri.
Saya jujur iri dengan suami yang penyayang seperti itu. Almarhum menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik, rela memberikan segalanya untuk keluarga meski kondisi tidak selalu ideal.
Bagi saya, keberhasilan seorang suami terlihat dari prioritas yang diberikan kepada istri dan anak-anak. Keberadaannya memberikan dampak nyata dan bisa dijadikan sandaran.
Membaca caption dan komentar di akun tersebut, saya turut berdoa semoga almarhum diberi tempat yang lapang di kuburnya dan setiap upaya yang dilakukan untuk keluarga mendapatkan pahala tak terbatas.
Para suami yang berjuang keras untuk keluarga layak mendapatkan tempat tertinggi, yaitu menjadi suami yang dibanggakan istri.
Menjadi Suami yang Dibanggakan Istri
Ada beberapa komentar yang membanjiri kolom, sebagian besar menyampaikan duka cita dan dukungan. Beberapa netizen yang mengenal almarhum membenarkan bahwa ia adalah pribadi yang baik. Ada juga akun yang sepertinya kerabat dekat, yang tidak meragukan kesetiaan almarhum. Dalam interaksi sebagai saudara, almarhum dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan sederhana.
Membaca caption dan komentar ini, saya terdorong untuk merenung. Bagaimana jika saat itu tiba, saya yang meninggalkan dunia ini? Apakah yang tersisa adalah kenangan baik atau justru sebaliknya? Apakah istri dan anak-anak merasa kehilangan atau tidak sama sekali?
Tahta tertinggi seorang suami adalah menjadi suami sejati. Yaitu suami yang berkorban habis-habisan dan melakukan yang terbaik untuk keluarga.
PR buat kita semua, para suami yang masih ada waktu. Segera introspeksi dan membenahi diri di sisa usia yang ada. Agar ketika nafas itu sampai di pangkal tenggorokan, tidak ada yang ditinggalkan kecuali kebaikannya.
Menjadi suami yang sejati sudah seharusnya menjadi tujuan setiap suami. Hanya kebaikan yang dilakukan, selalu menjadi suami yang dibanggakan istri.
Semoga bermanfaat.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











