Perayaan Tradisional yang Tidak Biasa
Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, baru-baru ini melakukan tindakan yang cukup menarik perhatian. Ia membagikan “berkat” kepada tetangganya di kawasan Crescent Park, Palo Alto, Amerika Serikat. Aksi ini terlihat mirip dengan tradisi masyarakat Jawa dalam membangun rumah, terutama ritual “selametan”. Namun, isi dari “berkat” yang diberikan oleh Zuckerberg jauh lebih istimewa dibandingkan tradisi biasanya.
Isi “Berkat” yang Unik
Zuckerberg memberikan paket berisi headphone peredam bising, minuman bersoda, dan kotak donat kepada warga sekitar. Tujuan utama dari pembagian bingkisan ini adalah untuk mengurangi gangguan akibat kebisingan yang terjadi selama proses renovasi dan pembangunan propertinya. Meski begitu, beberapa tetangga masih merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan sekitar.
Ritual Selametan dalam Budaya Jawa
Dalam budaya Jawa, ritual “selametan” sering dilakukan saat akan membangun rumah. Ritual ini memiliki makna teologis, yaitu memohon keselamatan pada Tuhan dan juga meminta restu dari tetangga agar pembangunan dapat berjalan lancar. Dalam ritual tersebut, pemilik rumah biasanya menyelenggarakan doa bersama dan membagikan “berkat” atau “sesajen” kepada tetangga. Di beberapa wilayah, isi “berkat” bisa berupa makanan dan jajanan. Namun, dalam kasus Zuckerberg, isi “berkat” yang diberikan jauh lebih unik dan modern.
Keluhan Warga Sekitar
Meskipun sudah diberi “berkat”, beberapa warga masih mengeluhkan dampak dari pembangunan yang terus-menerus. Mereka mengeluh tentang kebisingan tanpa henti, penutupan jalan, puing-puing bangunan yang berserakan, serta perubahan drastis pada lingkungan sekitar. Beberapa warga juga menyebut bahwa kawasan yang sebelumnya tenang kini dipenuhi pengamanan ketat, kamera pengawas, dan patroli rutin petugas keamanan.
Pembangunan yang Tak Kunjung Usai
Selama 14 tahun terakhir, Zuckerberg telah menghabiskan lebih dari 110 juta dolar AS untuk membeli rumah di Edgewood Drive dan Hamilton Avenue, yang termasuk dalam kawasan Crescent Park. Total ada 11 rumah yang dimiliki Zuckerberg di kompleks tersebut. Sejumlah properti telah diubah fungsinya menjadi rumah tamu, taman luas, lapangan pickleball, serta kolam renang dengan sistem hydrofloor.
Beberapa bangunan juga sempat digunakan sebagai sekolah privat untuk anak-anak Zuckerberg dan beberapa anak lain. Zuckerberg juga menambahkan ruang bawah tanah seluas sekitar 7.000 kaki persegi. Struktur ini oleh sebagian warga disebut menyerupai “bunker”. Konsep bangunan bawah tanah serupa juga diterapkan Zuckerberg di properti miliknya di Hawaii, meski ia membantah menyebutnya sebagai bunker.
Tanggapan dari Pihak Meta
Pembangunan di kawasan Crescent Park disebut berlangsung hampir delapan tahun. Warga menyebut aktivitas konstruksi yang terus-menerus membuat lingkungan sekitar tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Menanggapi keluhan tersebut, juru bicara mengatakan kepada Fortune bahwa Zuckerberg dan keluarganya telah menjadikan Palo Alto sebagai rumah selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, Zuckerberg berupaya meminimalkan gangguan dan bahkan melampaui kewajiban yang ditetapkan pemerintah setempat.
“Mereka menghargai peran sebagai bagian dari komunitas dan telah mengambil sejumlah langkah yang melampaui ketentuan lokal untuk meminimalisasi gangguan di lingkungan sekitar,” ujar juru bicara tersebut.











