Tren Mode yang Mengubah Dunia pada Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh perubahan bagi dunia mode. Setelah beberapa tahun diwarnai oleh estetika quiet luxury yang minimalis dan tenang, industri ini kembali menunjukkan sisi keberaniannya. Fashion kini menjadi medium ekspresi yang bebas, emosional, dan penuh kejutan. Berikut adalah perubahan paling signifikan dalam dunia mode sepanjang tahun ini.
1. Demam Labubu dan Kebangkitan Gantungan Tas
Salah satu fenomena yang mencolok di tahun 2025 adalah naiknya popularitas Labubu, karakter peri nakal berbulu ciptaan seniman Hong Kong, Kasing Lung. Awalnya hanya sekadar koleksi mainan Pop Mart, Labubu bertransformasi menjadi simbol status di dunia mode setelah terlihat menghiasi tas selebritas global seperti Lisa BLACKPINK hingga Rihanna.
Kemunculan Labubu membuka gerbang tren gantungan tas secara masif. Merek ternama seperti Bottega Veneta, Burberry, dan Loewe berlomba-lomba menghiasi tas tangan mewah dengan gantungan Labubu. Fenomena ini menandai pergeseran besar dari kemewahan yang tenang menuju maksimalisme yang menyenangkan, di mana aksesori kecil justru menjadi pusat perhatian.
2. Aksesori Makin Besar dan Berani
Tahun 2025 menjadi tahunnya aksesori tampil dominan. Kalung mutiara berukuran besar, perhiasan eksentrik, hingga aksesori personal seperti dompet yang dikenakan sebagai kalung menjadi pemandangan umum di runway Paris hingga Milan. Desainer seperti Saint Laurent menghidupkan kembali semangat era 1980-an dengan aksesori chunky, sementara Vaquera menghadirkan mutiara berukuran ekstrem dengan sentuhan teatrikal.
Aksesori tak lagi sekadar pelengkap, melainkan pembuka percakapan dan penanda identitas personal pemakainya.
3. Tas Birkin Termahal
Tahun 2025 juga mencatat sejarah ketika prototipe tas Birkin pertama milik Jane Birkin terjual seharga €8,58 juta di lelang Sotheby’s Paris, menjadikannya tas termahal yang pernah dilelang. Namun, di balik sensasi tersebut, muncul ketegangan soal budaya resale dan eksklusivitas.
CEO Hermès, Axel Dumas secara terbuka mengkritik pembeli yang membeli Birkin hanya untuk dijual kembali. Di saat yang sama, viralnya tas tiruan “Wirkin” dari Walmart turut menggerus aura ekslusif Birkin. Meski begitu, Birkin tetap bertahan sebagai simbol kemewahan, meski dengan beban makna yang lebih berat.
4. Topi Ekstrem
Dari topi biru lebar Melania Trump saat pelantikan presiden AS hingga topi dramatis Rihanna di Met Gala 2025, aksesori kepala kembali mencuri perhatian. Topi tidak lagi sekadar pelindung kepala, melainkan pernyataan sikap. Topi Elphaba dalam film musikal Wicked bahkan digunakan sebagai simbol perlawanan visual.
Tahun 2025 menunjukkan bahwa fashion tak ragu menggunakan aksesori sebagai bahasa politik, personal, dan budaya.
5. Sepatu Jadi Pusat Perhatian
Jika sebelumnya busana mendominasi, maka 2025 adalah tahunnya kaki berbicara. Tren sepatu nyentrik seperti sneakerina, sandal platform beludru, hingga sepatu dengan cincin jari kaki menjadi favorit. Merek seperti Balenciaga, Dries Van Noten, hingga Celine memperkenalkan siluet sepatu yang unik dan eksperimental.
Sepatu tak lagi dipilih karena fungsinya semata, melainkan sebagai pernyataan gaya yang berani.
6. AI Mulai Membentuk Arah Fashion Global
Kecerdasan buatan menjadi aktor baru yang signifikan di dunia mode. Dari prediksi tren hingga visual kampanye, AI digunakan oleh brand besar seperti Zara, H&M, dan Guess. Desainer legendaris Norma Kamali bahkan melatih AI menggunakan arsip desainnya selama 57 tahun. Namun, Kamali mengingatkan bahwa teknologi tetap memiliki batas.
“AI tidak memiliki detak jantung. Ia tidak bisa menggantikan gairah manusia,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kreativitas manusia masih menjadi inti dunia mode.
7. Fashion Kembali Merayakan Cerita dan Emosi
Pengunduran diri Anna Wintour dari jabatan pemimpin redaksi American Vogue menambah tanda bahwa dunia mode tengah bergeser. Otoritas lama masih ada, tetapi pengaruh budaya pop, media sosial, dan momen viral kini jauh lebih dominan.
Kembalinya film The Devil Wears Prada ke tahap produksi pun menjadi simbol bagaimana fiksi, realitas, dan mitologi fashion semakin saling bertaut. Busana kembali menjadi medium bercerita, tentang cinta, kekuasaan, nostalgia, hingga absurditas.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











