Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Tak Bergejala, Penyakit Ini Sering Terlambat Ditangani di Cirebon, Tiba-Tiba Kena Stroke

Penyakit yang Tidak Menunjukkan Gejala Sering Terlambat Diketahui

Banyak warga yang baru datang ke dokter ketika kondisinya sudah sangat parah. Hal ini tidak disebabkan oleh ketidakekspasan untuk berobat, melainkan karena penyakit yang mereka alami sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Fenomena ini diungkapkan oleh dr Mohamad Luthfi, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Cabang Cirebon terpilih periode 2025–2028.

“Seringkali yang datang terlambat adalah penyakit yang gejalanya minim,” ujar dr Luthfi. Ia menjelaskan bahwa ada penyakit yang pada satu pasien menunjukkan gejala, namun pada pasien lain justru tidak menunjukkan gejala apa pun.

Salah satu penyakit yang sering terlambat ditangani adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit senyap karena bisa berkembang tanpa keluhan berarti. “Contohnya darah tinggi. Ada pasien yang tekanan darahnya meningkat lalu muncul gejala, sehingga mereka segera berobat. Tapi ada juga pasien yang tekanan darahnya sudah sangat tinggi namun tidak merasakan gejala apa pun,” jelasnya.

Akibatnya, banyak pasien hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah berujung pada komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, atau serangan jantung. Selain itu, diabetes mellitus atau kencing manis juga menjadi penyakit yang kerap luput terdeteksi sejak dini. Gejala yang tidak dirasakan membuat pasien merasa sehat, padahal kerusakan organ telah berlangsung. “Mereka baru datang setelah muncul gangguan ginjal. Ini yang sering kami temukan,” tambahnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan penyakit dalam di Cirebon. Karena itu, PAPDI Cirebon berkomitmen memperkuat edukasi kepada masyarakat. “Inilah yang akan kami lakukan ke depan, bagaimana mengedukasi masyarakat agar memahami pentingnya deteksi dini terhadap penyakit-penyakit tersebut,” ujar dr Luthfi. Menurutnya, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi kunci untuk mencegah komplikasi berat yang sebenarnya bisa dihindari. “Kalau bisa terdeteksi lebih awal, risikonya tentu bisa ditekan. Jangan menunggu sakit dulu baru ke dokter,” pesannya.

Pelantikan Pengurus PAPDI Cirebon dan Pesan Penting

Pelantikan pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Cabang Cirebon bukan sekadar seremoni organisasi. Di balik agenda tersebut, terselip pesan penting agar dokter lebih terbuka dan hadir di tengah masyarakat, terutama di era media sosial yang sarat informasi, bahkan disinformasi. Pesan itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, dr Eka Ginanjar, saat menghadiri pelantikan pengurus PAPDI Cirebon di salah satu hotel di Jalan Brigjend Dharsono, Kabupaten Cirebon, Sabtu (20/12/2025).

“PAPDI itu Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Kita ada 39 cabang dan salah satunya adalah PAPDI Cirebon. Harapannya yang nomor satu, PAPDI bisa mengayomi seluruh anggota, khususnya yang ada di Cirebon,” ujar dr Eka. Saat ini, PAPDI Cirebon menaungi 84 dokter spesialis penyakit dalam. Menurut dr Eka, jumlah tersebut bukan sekadar angka, melainkan kekuatan kolektif yang harus dijaga dari sisi kompetensi, kesejawatan, dan kolegialitas. “Jumlahnya ada 84 orang dan diharapkan bisa saling menjaga kompetensinya, kesejawatan, dan kolegialitasnya. Yang kedua, tentu kita sama-sama membangun kesehatan di Indonesia, khususnya berkontribusi untuk kesehatan masyarakat di Cirebon dan sekitarnya,” ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari organisasi profesi lain, pemerintah, hingga pihak swasta, agar peningkatan kesehatan masyarakat berjalan optimal. Di sisi lain, dr Eka menyinggung perubahan regulasi kesehatan pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023, yang membawa perubahan dalam sistem praktik dokter. “Terutama bagaimana seorang dokter itu bisa praktik secara langsung tanpa melalui organisasi profesi,” jelasnya. Meski demikian, ia berharap PAPDI Cirebon tetap menjadi rumah bersama bagi para internis di daerah.

Tantangan Kepercayaan Publik dan Program Kerja Nyata

Sorotan lain yang tak kalah penting adalah tantangan kepercayaan publik terhadap profesi dokter di era media sosial. Menurut dr Eka, derasnya arus informasi kesehatan membuat masyarakat kerap kesulitan membedakan informasi yang benar dan keliru. “Informasi tentang penyakit, tentang dokter, tentang kesehatan itu banyak yang di-driven oleh media sosial. Kadang salah, kadang betul,” ujarnya. Ia mengakui, profesi dokter masih perlu lebih dekat dengan media sebagai sarana edukasi masyarakat. “Edukasi tentang diabetes, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru itu semua menjadi tanggung jawab kita. Keilmuan itu harus tergambarkan ke masyarakat melalui media,” katanya.

Sementara itu, dr Mohamad Luthfi menyatakan siap menerjemahkan pesan tersebut ke dalam program kerja nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Cirebon. “Setelah pelantikan ini, kami akan menyusun program kerja secara komprehensif berdasarkan review permasalahan di bidang kesehatan,” ujarnya. Ia menyebut fokus program ke depan mencakup berbagai persoalan, mulai dari angka kematian ibu dan bayi, tuberkulosis paru, stunting, hingga pelayanan penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.

Menjawab soal krisis kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan, dr Luthfi menegaskan ada tiga hal yang akan diperkuat. “Pertama, kompetensi anggota. Kedua, etika kedokteran dan etika pelayanan. Ketiga, yang terpenting adalah komunikasi yang efektif,” katanya. “Sering kali masalah muncul bukan karena tindakan medis, tetapi karena kurangnya komunikasi,” pungkasnya.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *