JAKARTA,
Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar istilah “toxic relationship”? Mungkin yang pertama kali terpikir adalah kekerasan fisik atau verbal dalam hubungan. Atau mungkin situasi pacaran yang sudah tidak lagi menjadi tempat aman bagi seseorang. Bahkan bisa saja mengarah pada hal-hal yang berbau seksual.
Saat aku sedang iseng mengakses media sosial, seringkali aku menemukan kasus-kasus toxic relationship ini dengan cerita yang bervariasi. Ada yang berani menghina pasangannya, seperti memberi komentar tentang penampilan fisik yang membuat pasangan merasa tidak percaya diri. Ada juga yang meminta pasangan untuk memenuhi fetish si pelaku.
Tidak jarang, ada yang sampai menyakiti secara fisik, namun setelahnya meminta maaf dengan cara yang sangat romantis dan membujuk pasangannya agar kembali. Namun, pola ini sering berulang kembali. Ini memang terdengar menakutkan, tetapi fakta bahwa hal ini nyata terjadi.
Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam hubungan yang tidak sehat. Ada yang berkata, “Sebenarnya dia baik, cuma kadang bikin capek.” Ada pula yang sudah sadar bahwa hubungannya tidak sehat, tetapi masih kesulitan untuk melepaskan karena takut kehilangan, takut sendirian, bahkan masih berharap suatu hari nanti pasangannya akan berubah.
Di sisi lain, ada yang sudah berani meninggalkan hubungan tersebut. Karena rasa penasaran saya terhadap toxic relationship ini belum terpuaskan, akhirnya saya mencoba berbicara dengan beberapa teman yang pernah atau sedang mengalami hal ini. Apa alasan mereka bertahan hingga akhirnya bisa keluar dari hubungan yang tidak sehat?
Obrolan saya dimulai dengan SA, salah satu teman yang masih dalam hubungan yang bisa dibilang kurang sehat. SA menggambarkan hubungannya sebagai sesuatu yang rumit dan penuh konflik, meskipun ia tidak secara langsung menyebut hubungannya sebagai toxic. Menurutnya, masalah sering muncul ketika pasangannya merasa kecewa dan menempatkan diri sebagai orang yang paling tersakiti. Padahal, SA merasa ia tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Padahal aku merasa aku tidak ngapa-ngapain, tapi selalu ada aja yang bikin ribut dan debat, sampai ujung-ujungnya dia ngajak putus,” katanya.
SA cenderung ragu untuk menyebut hubungannya sebagai toxic relationship. Meskipun begitu, ia tetap melanjutkan hubungannya hingga ke jenjang yang lebih serius.
Ada juga C, korban dari toxic relationship yang kini telah sadar bahwa hubungannya jauh dari kata sehat, tetapi masih sulit untuk meninggalkan pasangannya. Hubungan C dan pasangannya sudah cukup lama, hampir 6 tahun. Meskipun hubungannya sudah sangat lama, C menggambarkan hubungannya saat ini sebagai sesuatu yang hampa. Ia merasa tidak lagi merasakan kebahagiaan atau perasaan gugup (butterflies era).
Kini, hanya tersisa rasa kecewa, takut, curiga, dan cemas setiap harinya. Ia merasa hubungannya sudah tidak aman dan tidak nyaman. Red flags paling jelas yang ia rasakan adalah perselingkuhan berulang. Pasangan C terus berselingkuh dengan beberapa perempuan, bahkan masih diam-diam menghubungi mantannya dan menunjukkan sifat obsesif.
Bagian tersulit bagi C adalah menerima dan memaafkan pasangannya kembali, dan itu terus berulang. Sampai akhirnya perselingkuhan pasangan C terbongkar, dan pasangan C tetap tidak peduli pada C. Hal itu semakin menyayat hati C.
Akhirnya, C mulai merefleksi diri dan melihat pengalaman serupa dari orang lain. Di situlah ia sadar bahwa selama ini ia terjebak dalam toxic relationship dan bertekad untuk keluar dari lingkaran setan tersebut, meskipun prosesnya tidak mudah.
C juga menyampaikan pendapatnya tentang hubungan impiannya:
“Hubungan sehat buat aku itu yang bisa jujur, terbuka, saling menghargai, dan punya batasan yang jelas. Aku cuma pengen sama orang yang lurus,” katanya.
Lalu, saya juga berbicara dengan dua teman yang berhasil keluar dari toxic relationship, yakni AS dan AR.
AS menilai toxic relationship sebagai hubungan yang kehilangan keseimbangan dan rasa saling menghargai. Menurutnya, hubungan berubah menjadi tidak sehat ketika hanya satu pihak yang merasa paling berkuasa dan mengatur jalannya hubungan. Ia juga menyoroti bagaimana manipulasi sering dibungkus dengan sikap manis di awal, sehingga banyak orang terjebak tanpa sadar.
“Pilih pasangan dengan bijak, jangan gampang tergoda oleh bujuk rayu yang kelihatannya romantis,” ujar AS. Pengalaman tersebut membuat AS kini lebih berhati-hati dan menekankan pentingnya kesadaran sejak awal dalam memilih pasangan, terutama bagi Gen Z yang kerap mudah terbawa romantisasi hubungan.
Sementara itu, AR menyadari hubungannya toxic ketika hubungan terasa tidak seimbang. Apalagi saat pasangan AR meminta AR untuk mengirimkan gambar tidak senonoh yang merupakan fetish dari pasangan AR sendiri. AR langsung sadar bahwa hubungan ini tidak baik untuk diteruskan, sehingga memutuskan untuk meninggalkan pasangannya.
Baginya, hubungan yang sehat adalah hubungan yang berjalan beriringan, bukan yang membuat satu pihak merasa dikendalikan atau direndahkan. Ia menekankan bahwa dominasi bukan masalah, selama tidak berubah menjadi kontrol atau perendahan pasangan.
Setelah keluar dari hubungan tersebut, AR memahami bahwa rasa lelah dan tertekan yang dulu ia rasakan bukan bagian dari cinta yang sehat.
“Hubungan itu ngga boleh timpang sebelah. Kalau cuma satu pihak yang berkuasa, itu udah ngga sehat,” ujar AR.
Toxic relationship ngga selalu datang dengan tamparan atau teriakan. Kadang ia hadir pelan-pelan, dibungkus perhatian, dibiasakan lewat rasa sabar, dan dinormalisasi lewat kalimat, “gapapa, nanti juga berubah.”
Kalau hubungan yang kamu jalani hari ini lebih sering bikin kamu capek daripada tenang, mungkin masalahnya bukan di kamu. Mungkin, itu memang bukan cinta yang sehat.
Katanya Gen-Z nggak suka baca, apalagi soal masalah yang rumit. Lewat artikel ini, coba bikin kamu paham dengan bahasa yang mudah.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











