Skala Bencana Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi
Banjir dan longsoran yang melanda sejumlah daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah menimbulkan korban jiwa yang semakin meningkat. Sampai hari Senin (01/12) sore, jumlah korban meninggal dunia mencapai 604 orang, sementara 464 orang lainnya masih hilang dan sebanyak 570.000 orang terpaksa mengungsi. Hal ini dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Foto sebelum dan sesudah kejadian banjir menunjukkan betapa besar kerusakan yang terjadi di tiga provinsi tersebut. Salah satu area yang paling parah adalah Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dengan 118 orang meninggal, 72 orang hilang, dan 6.300 pengungsi. Foto udara dari Masjid Suhada di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Kabupaten Agam menunjukkan rumah-rumah dan jalan-jalan hancur akibat air. Area ini awalnya terisolir dan sulit dijangkau oleh relawan, namun pada 1 Desember 2025, para relawan sudah bisa melakukan evakuasi.

Sungai Batang Anai yang membentang di Kota Padang Panjang dan Kota Padang meluap akibat hujan deras, seperti terlihat dalam foto satelit berikut. Sebanyak 20 ribu orang dari dua kota tersebut harus mengungsi. Selain itu, 33 orang meninggal dan 32 lainnya masih hilang. Jembatan Kembar dan sebuah gapura di Padang Panjang tampak hancur lebur serta terendam lumpur. Akses jalan ke ibu kota Sumatra Barat pun terputus.

Di Sumatra Utara, area terdampak paling parah adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan jumlah orang meninggal sebanyak 86 dan orang hilang sebanyak 104. Sementara itu, sebanyak 2.100 orang kehilangan rumah dan harus mengungsi. Citra satelit menunjukkan banjir di jalan lintas kabupaten, Jalan Sibolga-Barus, dan area di sekitarnya di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kota Sibolga menjadi kota dengan jumlah korban jiwa tertinggi ketiga di provinsi Sumatra Utara, sebanyak 50 orang meregang nyawa. Delapan orang masih hilang dan 4.500 orang mengungsi.

Di Aceh, pengungsi membeludak hingga lebih dari 470 ribu atau 80 persen dari total pengungsi banjir Sumatra. Sebanyak 156 orang meninggal. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebutnya sebagai “tsunami kedua”. Dua kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak yakni Aceh Utara dan Aceh Timur, masing-masing memiliki 212 ribu orang. Di kabupaten yang sama, 34 orang meninggal dan 52 orang masih dinyatakan hilang. Foto menunjukkan banjir di pesisir pantai yang merendam empat kecamatan di Aceh Utara yakni Seunuddon, Baktiya Barat, Baktiya, Tanah Jambo Aye, dan dua kecamatan di Aceh Timur yaitu Madat dan Simpang Ulim.
Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, sebanyak 24 ribu orang mengungsi, 17 orang meninggal dan 18 hilang. Citra satelit menunjukkan dua kecamatan di kabupaten tersebut, Meureudu and Meurah Dua, terendam banjir. Selain itu, jembatan di jalan lintas provinsi di Kecamatan Meureudu yang menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara terputus. Akibatnya, akses jalan darat pun tak dapat dilalui.

Penyebab Banjir
Salah satu pemicu banjir adalah hujan ekstrem yang terus-menerus terjadi sejak 23 hingga 25 November 2025. Hujan ini dipengaruhi oleh siklon langka, Siklon Senyar, yang terjadi di sekitar Selat Malaka, menurut peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, kepada BBC News Indonesia. Gambar di bawah menunjukkan curah hujan di atas intensitas 100 mm per hari terjadi di sebagian wilayah Sumatra Barat pada 23 November 2025. Keesokan harinya, hujan lebat masih melanda sebagian wilayah tersebut dan kabupaten lain di Sumatra Utara di antaranya Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Pada 25 November 2025, hanya dalam sehari, hujan ekstrem – lebih dari tiga kali kekuatan hujan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat – terjadi di Aceh. Hampir seluruh Aceh mengalami hujan deras, mulai dari Kabupaten Gayo, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Barat, dan lainnya.

Selain pengaruh iklim, menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), bencana ini diperparah dengan berkurangnya tutupan hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun industri ekstraktif seperti sawit dan serat kayu. Data dari Nusantara Atlas menunjukkan, deforestasi terjadi di tiga provinsi tersebut. Pada 2024, jumlah kebun kelapa sawit yakni 1,5 juta hektare atau 57 kali luas Kota Medan, sementara kebun serat kayu yakni seluas lima kali Kota Medan atau 150 ribu hektare. Selama dua dekade, angka ini meningkat 1,4 kali lipat untuk kelapa sawit dan hampir dua kali lipat untuk hutan serat kayu. Lebih jauh, deforestasi akibat pembukaan lahan menjadi tambang juga dituding memperparah banjir yang terjadi di tiga provinsi tersebut.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 100 ribu tambang mineral dan batubara yang dimiliki oleh 54 perusahaan di Aceh. Sebanyak 142 ribu hektare izin usaha tambang dipegang oleh 164 perusahaan, koperasi, dan perseorangan di Sumatra Utara. Sementara itu, di Sumatra Barat tercatat 18.163 hektare tambang yang dimiliki lebih dari 200 perusahaan, koperasi, dan lainnya.
Grafik oleh: Arvin Supriyadi











