Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Akademisi dan Teknisi Ungkap Khasiat Octane Booster

Penggunaan Octane Booster: Apakah Efektif atau Hanya Janji Kosong?

Octane booster adalah produk yang diklaim mampu meningkatkan nilai oktan (RON) pada bahan bakar. Dengan demikian, konsumen bisa memperoleh bensin murah namun kualitasnya setara dengan bensin mahal. Harapan utamanya adalah performa kendaraan menjadi lebih baik, emisi rendah, dan tidak menguras isi dompet. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar terbukti secara ilmiah?

Anugerah Rio, pemilik Sar Speed Solo, menyatakan bahwa saat ini penggunaan octane booster tidak sepopuler dulu karena efektivitasnya dinilai tidak signifikan. “Selisih tenaga yang dihasilkan tidak begitu besar, dan harga bensin yang terpaut sedikit juga membuatnya kurang menarik,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga antara Pertalite (Rp 10.000) dan Pertamax (Rp 12.000) tidak begitu besar, sementara harga octane booster sendiri mencapai minimal Rp 50.000.

Menurut Rio, saat ini penggunaan octane booster tidak tepat. Selain efektivitasnya yang rendah, pasar untuk produk ini juga semakin sempit. “Riset tentang octane booster jarang dilakukan, dan pasarnya hampir tak ada,” tambahnya.

Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menyampaikan bahwa banyak klaim efektivitas octane booster yang tidak sesuai dengan fakta ilmiah. “Beberapa produsen mengklaim bisa menaikkan oktan hingga 5 poin, padahal sebenarnya hanya naik 0,5 poin. Contohnya, bensin RON 90 jadi RON 90,5, bukan RON 95,” ujarnya.

Jayan menegaskan bahwa kenaikan RON tersebut tidak selalu berdampak pada peningkatan tenaga kendaraan. “Hanya mesin dengan spesifikasi kompresi tinggi yang akan merasakan manfaatnya. Misalnya, mesin dengan rasio kompresi 9 cukup menggunakan bensin RON 90 atau RON 88. Jika diberi bensin berkualitas lebih tinggi, performanya tidak akan meningkat, kecuali mesin dengan kompresi tinggi,” jelasnya.

Taqwa Suryo Swasono, pemilik bengkel Garden Speed di Cilandak Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa respons octane booster terhadap kendaraan tidak selalu sama. Hal ini tergantung pada konfigurasi sistem dan teknologi mesin. “Bukan hanya soal kompresi mesin yang harus sesuai, tapi bahkan mesin dengan kompresi sama pun bisa memberikan hasil yang berbeda. Ada yang jadi lebih responsif, ada yang sama saja,” ujarnya.

Di mobil modern, terdapat knock sensor yang akan mengoreksi timing pengapian ketika terjadi perubahan kualitas BBM. Ketika RON meningkat, maka respon wajar mesin akan membuat timing pengapian mundur. “Namun, ada mobil yang knock sensornya tidak merespons, atau justru maju, sehingga dampaknya tidak begitu terasa bagi pengendara. Ini bisa terjadi karena sifat octane booster seperti itu,” jelas Taqwa.

Meskipun demikian, penambahan octane booster memang akan meningkatkan nilai RON, tetapi harus diuji melalui tes laboratorium. “Mengenai efek samping, setiap konsumen bisa mengevaluasi secara mandiri, karena efek samping tidak akan muncul secara instan, tetapi mungkin memerlukan waktu beberapa lama pemakaian,” tutup Taqwa.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *