Perjalanan Piyan Rahmadi: Dari Keluarga Kecil Hingga Bekerja di Perusahaan Nikel Internasional
Piyan Rahmadi adalah contoh nyata bahwa perjuangan keras untuk meraih mimpi tidak akan pernah sia-sia. Setelah lulus dari program S1 Teknik Metalurgi di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Keputusan ini ternyata menjadi awal dari perjalanan yang luar biasa, hingga akhirnya ia diterima bekerja di PT QMB Morowali, sebuah perusahaan nikel internasional yang menawarkan gaji tinggi.
Awal Mula Perjalanan
Lahir dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Piyan tumbuh dengan kesadaran bahwa kuliah adalah kunci menuju kesuksesan. Ayahnya bekerja sebagai tukang ojek, sementara ibunya membuka warung kecil di rumah. Bagi Piyan, menamatkan pendidikan hingga SMA sudah merupakan pencapaian besar. Namun, ia memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan tinggi akan membuka peluang lebih besar bagi masa depannya.
Motivasi Piyan muncul sejak ia kelas dua SMA, terinspirasi oleh cerita ibunya tentang tetangga yang berhasil masuk ITB jurusan pertambangan. Bayangan kuliah di ITB tertanam kuat dalam pikirannya. Saat kelas tiga, ia mulai mencari informasi mengenai Beasiswa Bidikmisi yang disediakan oleh guru-gurunya. Kombinasi nilai akademik yang unggul dan informasi yang tepat sasaran membuatnya berhasil mengamankan kursi S1 Teknik Metalurgi di ITB.
Pendidikan Lanjutan dan Minat pada Energi Baru Terbarukan
Setelah lulus S1, Piyan bertekad untuk melanjutkan S2. Ia akhirnya diterima di Central South University (CSU) di Tiongkok dengan beasiswa LPDP. Minatnya pada isu energi baru dan terbarukan muncul saat menulis skripsi tentang lithium battery sebagai komponen penting mobil listrik. Ia tertarik pada baterai litium cobalt oxide dan nickel cobalt manganese oxide, yang menjadi bagian penting dari teknologi mobil listrik.
Minat tersebut terbuka jalannya saat Kemenkomarves bersama LPDP menawarkan program beasiswa kerja sama dengan CSU yang fokus pada bidang energi dan hilirisasi nikel. Pada 2019, Piyan berangkat ke Changsha, Hunan, untuk menempuh studi magister di CSU.
Tantangan dan Kesuksesan
Pindah ke Tiongkok bukanlah hal mudah bagi Piyan. Ia menghadapi tantangan besar seperti bahasa, budaya, dan makanan yang jauh dari kebiasaan. Namun, ketekunan dan kerja kerasnya terbayar ketika ia lulus tepat waktu. Selama masa studi, ia juga melakukan magang di PT QMB Morowali, sebuah perusahaan hasil kerja sama Indonesia–Tiongkok yang menjadi pionir teknologi HPAL di Tanah Air.
Awalnya, Piyan magang sambil menyelesaikan tesis tentang kehilangan besi dan aluminium pada proses pelindian. Meski laboratorium terbatas dan alat analisis harus dikirim ke IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park), ia berhasil menyelesaikan tesisnya dengan kesabaran dan kerja keras. Bahkan, setelah lulus langsung bisa bekerja di perusahaan tersebut karena beasiswa LPDP-CSU dirancang agar lulusannya langsung diserap ke industri strategis nasional.
Karier di PT QMB Morowali
Setelah wisuda, Piyan resmi bergabung dengan PT QMB Morowali. Ia memulai karier dari posisi paling dasar, kemudian berkembang menjadi supervisor di proses HPAL. Kini, ia memimpin tim yang mengawal proses pelindian nikel menggunakan asam sulfat bertekanan tinggi dalam autoclave. Teknologi ini menjadi tulang punggung hilirisasi nikel nasional.
Selain itu, Piyan juga menjadi mentor bagi operator lokal, melatih mereka agar kelak bisa mengambil alih kendali dari para tenaga asing. “Saya ingin karyawan Indonesia punya kompetensi yang cukup di bidang ini,” ujarnya penuh tekad.
Pelajaran dari Perusahaan Tiongkok
Bekerja di perusahaan yang berafiliasi kuat dengan Tiongkok memberi Piyan pelajaran berharga tentang etos kerja yang tinggi. Ia belajar arti ketepatan waktu, tanggung jawab, dan disiplin. “Pace kerja mereka cepat, laporan detail, dan disiplin luar biasa,” katanya.
Meski sistem di sana cenderung top-down, Piyan melihat sisi positifnya. Kerja menjadi terarah, target tercapai, dan kedisiplinan menjadi budaya. Dari sinilah ia menempa karakter profesionalnya yaitu tegas, presisi, dan pantang menyerah.
Mimpi Masa Depan
Dengan teknologi seperti HPAL, nikel laterit dari tanah Sulawesi bisa diolah menjadi nikel sulfat yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik. Proses produksi hingga menjadi bahan setengah jadi ini adalah tanda penting bagaimana Indonesia mengelola dan menatap masa depannya di bidang tambang.
Suatu hari, Piyan bermimpi melanjutkan studi S3 di bidang material lanjutan, lalu kembali untuk mengajar. “Saya ingin membagikan ilmu yang saya dapat, baik dari kampus maupun industri,” katanya.











