Kecanduan Gawai di Kota Malang: Dampak pada Keluarga dan Pendidikan Anak
Di Kota Malang, tren penggunaan gawai oleh anak-anak semakin meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim tahun 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 89 persen anak-anak di Kota Malang menggunakan gawai dalam tiga bulan berturut-turut. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Kota Batu yang mencapai 82 persen dan Kabupaten Malang dengan 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kecanduan gawai sudah menjadi masalah serius di wilayah tersebut.
Kecanduan gawai tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak, tetapi juga mengganggu hubungan keluarga. Salah satu contohnya adalah Anastasia, seorang remaja yang mengalami perubahan drastis dalam hubungannya dengan kakaknya. Kakak Anastasia dulu sangat dekat dengannya, namun setelah terjebak dalam kecanduan gawai, hubungan itu mulai memburuk. Kakaknya kini lebih memilih menyendiri di dunia digital daripada berinteraksi dengan keluarga.
“Bahkan dia tidak mau mengantarkan saya berangkat sekolah. Saya memohon beberapa kali pun tetap tidak mau,” ujar Anastasia. Perubahan perilaku kakaknya disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan pertemanan dan kurangnya pengawasan orang tua. Kakak Anastasia, yang merupakan cucu pertama dalam keluarga, biasanya mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Namun karena tidak terkontrol dengan baik, akhirnya dia kecanduan gawai.
Gejala Kecanduan Gawai dan Solusi yang Tepat
Anak-anak yang kecanduan gawai memiliki ciri-ciri khusus, seperti menggunakan gawai untuk hiburan selama lebih dari dua jam sehari. Ketika gawai akan diambil, mereka bisa menunjukkan reaksi emosional seperti menangis atau marah (tantrum). Dalam kasus ini, orang tua perlu membuat aturan tegas tentang penggunaan gawai, serta mendukung anak dalam kegiatan sosial, motorik, dan hobi positif.
Lovita Siregar, konselor dari Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Bhakti Pertiwi Kota Batu, menjelaskan bahwa kecanduan gawai bisa berdampak buruk pada perkembangan anak. “Jika anak mengalami gejala atau mengalami kecanduan gadget, orang tua jangan segan untuk menggunakan tenaga profesional seperti psikolog, psikiater, dan pusat terapi tumbuh kembang anak,” katanya.
Selain itu, PUSPAGA juga memiliki program pencegahan kecanduan gawai melalui psikoedukasi. Penanganannya melibatkan konsultasi pengasuhan dan pendampingan tumbuh kembang anak. Jika hasil asesmen menunjukkan dampak yang membahayakan, anak akan diarahkan ke psikiater.
Aturan Penggunaan Gawai untuk Anak
Lovita juga menyarankan batasan penggunaan gawai sesuai usia anak. Untuk anak di bawah 2 tahun, sebaiknya tidak diberikan gawai. Anak usia 3-4 tahun boleh diberikan gawai, tetapi hanya maksimal 1 jam. Sedangkan anak usia 5 tahun ke atas diperbolehkan menggunakan gawai maksimal 2 jam sehari.
Selain itu, orang tua juga perlu membatasi tempat dan situasi bermain gawai. Jangan diperbolehkan bermain gawai di kamar, kamar mandi, atau toilet, serta dekat dengan gas. Selain itu, larang anak untuk bermain gadget ketika berkendara, saat pengisian bensin, dan saat kumpul keluarga.
Dampak Negatif Kecanduan Gawai pada Perkembangan Anak
Kecanduan gawai dapat menyebabkan berbagai gangguan perkembangan anak. Contohnya adalah speech delay, yang bisa memicu autisme atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Gangguan perkembangan saraf ini dapat mengganggu tumbuh kembang anak, sehingga kemampuan sosial dan problem solving menurun. Selain itu, impulsifitas meningkat dan daya juang anak menurun.
Dari data yang diperoleh, sebanyak 261 anak di Kota Batu mengalami kecanduan gawai pada tahun 2022-2023. Hal ini menunjukkan bahwa kecanduan gawai bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sosial yang perlu segera ditangani.
Kesimpulan
Kecanduan gawai telah menjadi masalah serius di Kota Malang dan sekitarnya. Dampaknya tidak hanya terasa pada kesehatan anak, tetapi juga pada keharmonisan keluarga. Orang tua perlu lebih waspada dan memberikan pengawasan yang tepat agar anak tidak terjebak dalam kecanduan gawai. Dengan aturan yang jelas dan dukungan dari pihak profesional, anak dapat tumbuh secara optimal tanpa terpengaruh negatif dari penggunaan gawai.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











