Perjalanan Mudik yang Unik
Seorang pemudik bernama Verisa Novri memilih cara berbeda untuk pulang kampung menjelang Idul Fitri tahun ini. Ia menempuh perjalanan dari Serpong, Tangerang Selatan menuju Palembang dengan menggunakan sepeda. Perjalanan dimulai pada Selasa, 17 Maret 2026, dan ia tiba di Palembang pada Jumat, 20 Maret 2026 sekitar pukul 19.00 WIB setelah menempuh jalur Jalan Lintas Timur Sumatera.
Bagi Verisa, ini bukan kali pertama melakukan perjalanan serupa. Ia sudah mulai menjajal mudik bersepeda sejak 2018. Bahkan pada tahun lalu, pria berusia 50 tahun ini menempuh rute sebaliknya, dari Palembang menuju Tangerang Selatan.
Meski usianya tidak lagi muda, ia tetap menjadikan sepeda sebagai bagian dari gaya hidupnya. “Selama di jalan, syukur tidak ada kendala di sepeda. Kendalanya di cuaca, karena selama perjalanan sangat panas, tapi gowes selama mudik itu ada kepuasan tersendiri,” kata Verisa, yang bekerja sebagai fotografer di media asal China, saat ditemui di Jembatan Ampera, Jumat malam, 20 Maret 2026.
Alasan Memilih Sepeda
Ia menambahkan, ada alasan praktis di balik pilihannya menggunakan sepeda saat mudik, yaitu soal estimasi waktu yang bisa diatur kapan saja. “Poinnya itu aman saat gowes sepeda, tidak kena macet, dan sepedaan itu lebih enak,” ujarnya.
Selama perjalanan, ia mengandalkan fasilitas umum untuk beristirahat, seperti masjid, kantor polisi, dan rest area. Menurut dia, masyarakat di sepanjang jalur yang ditempuh cukup membantu perjalananya. “Kalau sudah capek atau kemalaman, saya cari tempat aman seperti polres atau masjid. Kadang warga juga bantu,” katanya.
Seperti saat beristirahat di minimarket di daerah Lubuk Seberuk, dia bertemu sopir truk yang memberinya tumpangan hingga Kayu Agung. Sebelumnya, ia ditawari untuk menumpang langsung ke Palembang, namun ia menolak.
“Saya bilang sampai Kayu Agung aja, karena saya mau menghindari jalan di dekat kawasan perkebunan sawit, soalnya jalannya menanjak dan tidak rata. Dan juga karena hari juga sangat panas, saya pilih untuk nebeng sedikit,” katanya.
Estimasi Biaya dan Waktu Tempuh
Dengan tumpangan itu, ia dapat memangkas perjalanan sekitar 50 kilometer. Namun, ia mengaku belum pernah menemukan pemudik lain yang menggunakan sepeda di jalur Sumatera. “Selama di jalan, saya belum ketemu yang mudik ke Sumatera pakai sepeda,” kata dia.
Dari sisi biaya, Verisa mengaku pengeluaran selama perjalanan relatif kecil. Ia memperkirakan total biaya sekitar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu, yang digunakan untuk penginapan sederhana dan konsumsi. “Rp500 ribu itu sama penginapan losmen, karena saya perlu charger handphone dan powerbank, dan istirahat yang lebih luwes sebelum lanjut lagi,” katanya.
Pengeluaran terbesar justru untuk membeli air minum dan minuman manis guna menjaga stamina selama bersepeda. “Ya rahasia biar tetap kuat gowes, minumnya yang manis. Karena tubuh kan butuh gula ya. Nanti dibakar lagi selama perjalanan gowes.”
Menurut dia, biaya tersebut lebih hemat dibandingkan ongkos bus yang biasanya meningkat saat musim mudik. Meski waktu tempuh lebih lama, ia menilai bersepeda memberi keleluasaan dalam mengatur perjalanan, termasuk menentukan titik istirahat berdasarkan kondisi fisik dan ketersediaan tempat yang aman.
Pengalaman Baru dan Hobi
Verisa mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah bertemu orang tua serta saudaranya. Bagi pria yang berasal dari Palembang itu, bersepeda bukan hanya alat transportasi, tetapi juga cara untuk menjalani hobi dan mencari pengalaman baru. “Kalau lagi ingin sepedaan, ya saya jalan. Kalau mau naik transportasi umum juga bisa. Tergantung kebutuhan saja,” katanya.
Setelah tiba di Palembang, ia berencana beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah keluarganya di kawasan Kenten. “Pulangnya, saya belum tahu apakah nanti mau gowes lagi atau tidak. Lihat kondisi tubuh nanti,” tuturnya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.










