Dampak Perang AS-Israel vs Iran pada Penerbangan Global
Serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap beberapa wilayah Iran ternyata berdampak besar pada penerbangan global. Iran melancarkan aksi balasan dengan mengirimkan rudal-rudal ke wilayah Israel, sehingga memicu penutupan ribuan penerbangan di wilayah Timur Tengah. Jemaah umrah di Tanah Suci, Arab Saudi, menjadi yang paling terkena dampaknya. Termasuk jemaah asal Indonesia yang masih terkatung-katung menunggu kepastian pemulangan dari Tanah Suci.
Hampir seluruh maskapai penerbangan di seluruh dunia harus mengganti rute penerbangan akibat situasi ini. Hasilnya, jutaan penumpang maskapai terlantar. Bandara-bandara di wilayah Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengumumkan penutupan sebagian hingga total wilayah udaranya. Hal ini terjadi karena Iran menyerang pangkalan AS yang berada di Dubai International Airport, salah satu bandara tersibuk di dunia.
Pakar dari firma konsultan Roland Berger, Didier Brechemier, menyebut insiden ini sebagai yang paling parah sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020-2021 silam. Berbeda dengan perang Rusia melawan Ukraina yang tidak melumpuhkan penerbangan di Timur Tengah. Wilayah ini menjadi jalur transit vital menuju Asia.
Berdasarkan catatan dari perusahaan analitik penerbangan Cirium, lebih dari 1.500 penerbangan menuju Timur Tengah dibatalkan dalam sehari, atau lebih dari 40 persen jadwal normal. Situs penerbangan FlightAware mencatat lebih dari 2.700 penerbangan global dibatalkan dan lebih dari 12.300 lainnya mengalami keterlambatan. Kerugian finansial diperkirakan sudah mencapai ratusan juta euro.
Penumpang Terlantar, Ketakutan di Udara
Dampak krisis ini terasa hingga ke berbagai penjuru dunia. Di Bandara Ngurah Rai Bali, penumpang terlihat memadati kantor layanan maskapai setelah penerbangan ke Doha, Dubai, dan Abu Dhabi dibatalkan. Di India, dua maskapai swasta terbesar, IndiGo dan Air India, menghentikan seluruh penerbangan ke Timur Tengah. Terminal keberangkatan di Chhatrapati Shivaji Maharaj International Airport dipenuhi calon penumpang yang kebingungan.
Kisah mencekam juga dialami rapper Italia BigMama. Penerbangannya dari Maladewa dialihkan ke gurun dekat Dubai, salah satu kota yang menjadi target serangan Iran. “Kami terus mendengar suara rudal di atas kepala. Saya sangat ketakutan,” ujarnya dalam video Instagram sambil menangis. Ia mengaku tidak tidur semalaman dan belum mendapat kepastian kapan bisa pulang.
Sejumlah Negara Siapkan Evakuasi
Beberapa negara mulai menyiapkan langkah evakuasi. Prancis dan Thailand menyatakan tengah mempertimbangkan pemulangan warga dari kawasan konflik. Presiden Asosiasi Operator Tur Prancis (SETO), Patrice Caradec, mengatakan pihaknya berupaya membangun “jembatan udara” melalui hub alternatif seperti Istanbul.
Sementara itu, ledakan dilaporkan mengguncang kawasan Palm Jumeirah di Dubai, dan puing drone menyebabkan kebakaran di hotel mewah Burj Al Arab. Seorang turis Prancis, Claudine Schwartz, yang menginap di The Palm, mengaku mendengar ledakan dan melihat asap hitam membumbung. Para tamu hotel diminta berlindung di lantai terbawah gedung. “Kami hanya bisa menunggu,” katanya, seraya menambahkan bahwa dirinya sudah terdaftar dalam hotline darurat Kementerian Luar Negeri Prancis.
Jemaah Umrah Terlantar di Arab Saudi
Sejumlah Muslim asal Afrika Selatan yang tengah menunaikan ibadah umrah kini terlantar di Arab Saudi setelah gelombang pembatalan penerbangan melanda kawasan Timur Tengah. Penutupan wilayah udara terjadi menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Situasi ini membuat banyak bandara utama di kawasan menghentikan operasional dan mengganggu jadwal kepulangan ribuan jemaah.
Salah satu jemaah, Yaseen Abrahams, seharusnya kembali ke tanah air kemarin. Namun gangguan perjalanan membuatnya masih tertahan di Arab Saudi. Ia mengungkapkan bahwa persoalan terbesar saat ini bukan hanya pembatalan penerbangan, tetapi juga tekanan finansial yang dihadapi para jemaah. “Salah satu faktor utama sekarang adalah beban biaya yang harus ditanggung para peziarah yang masih berada di kota-kota suci. Ketersediaan hotel menjadi tantangan besar, apalagi saat ini adalah bulan yang sangat suci dan penuh berkah bagi umat Islam,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut solidaritas sesama warga Afrika Selatan di Arab Saudi cukup membantu. Sejumlah relawan dan komunitas setempat telah menyediakan akomodasi sementara dan makanan gratis bagi jemaah yang terdampak.
Jemaah Umrah Kurdistan Akhirnya Pulang Lewat Jalur Darat
Sekitar 200 jemaah umrah asal Wilayah Kurdistan yang sebelumnya terlantar di Bandara Madinah akhirnya tiba dengan selamat di kampung halaman mereka pada Minggu malam. Kepulangan dilakukan melalui jalur darat setelah penerbangan dihentikan akibat situasi konflik di kawasan. Direktorat Haji dan Umrah Wilayah Kurdistan menyampaikan bahwa para jemaah sempat tertahan di bandara di Medina karena penangguhan penerbangan menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Juru bicara Direktorat Haji dan Umrah, Karwan Stoni, menjelaskan bahwa penghentian layanan penerbangan membuat otoritas tidak memiliki pilihan selain memulangkan jemaah melalui jalur darat. “Selama situasi kawasan masih belum stabil dan penerbangan belum tersedia, kami terpaksa mengembalikan para jemaah melalui jalur darat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang telah merencanakan perjalanan umrah dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatan hingga kondisi kembali normal. “Untuk saat ini, masyarakat sebaiknya menunda perjalanan umrah sampai situasi benar-benar berakhir,” tegasnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











