Mengontrol Tabungan Spiritual
Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, mengingatkan pentingnya mengontrol “tabungan spiritual” atau spiritual saving dalam kehidupan manusia. Menurutnya, keselamatan, ketenangan, bahkan perlindungan dari berbagai marabahaya tidak lepas dari kualitas spiritual seseorang.
Melalui refleksi kisah klasik dan hikayat sufistik, ia menggambarkan bagaimana saldo spiritual dapat menentukan arah kehidupan seseorang. Berikut adalah beberapa contoh yang menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Habil dan Qabil: Simbol Saldo Spiritual
Dalam kisah perkawinan Adam dan Hawa, lahir anak-anak kembar berpasang-pasangan. Anak pertama adalah Habil beserta saudari kembarnya, disusul Qabil dan saudari kembarnya. Menurut ketentuan, Habil dijodohkan dengan kembaran Qabil dan Qabil dijodohkan dengan kembaran Habil. Namun Qabil menolak karena pasangan Habil dinilai tidak secantik saudari kembarnya.
Dari sinilah kecemburuan, kebencian, dan dendam mulai merasuk dalam dirinya. Sebaliknya, kearifan dan budi baik tertanam dalam diri Habil. Keduanya juga memilih jalan hidup berbeda. Habil bercocok tanam, sementara Qabil beternak.
Ketika diminta mengeluarkan zakat dan infak, Habil mempersembahkan hasil tanaman terbaiknya, sedangkan Qabil mempersembahkan binatang yang kurus dan kecil. Tuhan menerima persembahan Habil dan menolak persembahan Qabil. Adam dan Hawa pun lebih respek kepada perilaku Habil. Akumulasi kebencian dalam diri Qabil akhirnya mendorong niat buruk.
Ia mengambil batu besar dan memukulkannya ke kepala Habil hingga sang kakak meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi pembunuhan pertama dalam sejarah kemanusiaan.
Setelah itu Qabil kebingungan. Ia kemudian terinspirasi oleh seekor burung gagak yang menguburkan bangkai anaknya. Menurut Prof. Nasaruddin Umar, Habil adalah simbol manusia yang memiliki tabungan spiritual dan mampu mengontrolnya dengan baik. Ia jujur, tawadhu, sabar, taat beribadah, dan hormat kepada orang tua.
Sebaliknya, Qabil menjadi simbol manusia dengan saldo minus dalam spiritual saving: egois, curang, dikuasai hawa nafsu, jauh dari Tuhan, dan rela mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi.
Hikayat Pemuda dan Batu Meteor
Dalam hikayat lain diceritakan seorang pemuda ahli ibadah yang aktif membantu warga. Seorang ahli ma’rifah menyayangkan dirinya karena secara spiritual melihat bahwa pemuda itu akan mati keesokan harinya tertimpa batu meteor raksasa.
Namun dua hari kemudian, pemuda itu tetap hidup sehat dan membantu warga seperti biasa. Ia tersenyum melihat keheranan sang ahli ma’rifah dan menjelaskan bahwa meteor itu memang jatuh menimpa rumahnya. Namun sebelum mencapai rumahnya, meteor tersebut hancur berkeping-keping setelah memasuki atmosfer bumi, sehingga yang jatuh hanya debunya.
Sang ahli ma’rifah kembali terkejut karena pemuda itu mengetahui apa yang sebelumnya ia saksikan secara batin. Menurut Prof. Nasaruddin Umar, ibadah yang ditekuni pemuda tersebut menjadi proteksi dari bahaya besar. Dalam konteks ini, social and spiritual saving menjadi tolak bala paling efektif.
Kejujuran dan Kematangan Spiritual
Dari dua kisah tersebut, Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa hidup harus ditempuh dengan kejujuran jika ingin meraih ketenangan. Ia juga mengingatkan agar tidak memandang enteng orang yang secara biologis masih muda. Bisa jadi usia spiritualnya sudah matang. Sebaliknya, belum tentu mereka yang matang secara biologis memiliki kedewasaan spiritual yang sama.
Orang yang dipilih Tuhan sebagai wali, menurutnya, diberi kemampuan mengakses alam gaib. Langkah-langkahnya mungkin sulit dipahami, namun di kemudian hari menjadi nyata. Orang pilihan Tuhan seringkali mendahului usia biologisnya.
Meski demikian, keajaiban yang diberikan kepada orang pilihan tidak berarti tertutup bagi yang lain. Tuhan menyediakan banyak jalan untuk mendekat kepada-Nya. Mungkin bukan melalui jalur wali, tetapi melalui jalur lain yang sama pentingnya di mata Tuhan.
Yang pasti, setiap manusia perlu memiliki satu keistimewaan sebagai pintu masuk untuk meraih kasih sayang Tuhan. Allahu a’lam.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











