Kios Cilok Jadoel di Pasar Tawangmangu, Kota Malang
Di sudut sebuah kios berukuran 4 x 7 meter di Pasar Tawangmangu, Kota Malang, ada tempat untuk menikmati jajanan pentol berbahan kanji, atau orang lebih sering mendengar dengan nama cilok. Di tahun 90-an, masyarakat di Kota Malang lebih mengenal pentol daripada cilok. Namun belakangan ini, “panggilan” pentol kalah populer daripada cilok untuk jajanan ringan ini. Nah, pentol berbahan dasar kanji itu kini bisa dinikmati kembali.
Di ruang mungil itu tertata sederhana tempat duduk plastik, sebuah sofa kecil sebagai opsi yang lebih nyaman, dan beberapa colokan listrik di dinding yang kerap dipakai pengunjung untuk mengisi daya ponsel sambil menunggu pesanan. Meskipun sederhana, kios itu hangat dan hidup, dipenuhi tawa pelanggan yang datang silih berganti.
Di balik meja kecil tempat ia menata wadah cilok, Rahmadani Al Firizqy, pemuda 19 tahun asal Kecamatan Klojen, tersenyum ramah menyapa setiap pembeli. Dialah salah satu penggerak bisnis Cilok Jadoel, jajanan yang kini jadi perbincangan dan buruan banyak orang.
“Kami pertama buka di Pasar Klojen November 2025. Cabang di Pasar Tawangmangu ini baru buka akhir Januari 2026,” ujarnya kepada media.
Cilok Jadoel punya kualitas yang berbeda. Pentolnya unik, berbahan dasar kanji, bukan campuran daging seperti cilok masa kini. Justru itu yang membuatnya disebut “jadoel.” Bedanya, Cilok Jadoel punya satu rahasia yang membuat orang ingin kembali lagi, yakni gajih.
“Gajihnya menyatu dengan pentol. Itu yang bikin beda. Rasanya lebih gurih,” ujarnya.
Teksturnya tidak kenyal seperti cilok kebanyakan. Cilok Jadoel lembut, mudah digigit. Ukuran pentolnya pun besar, diameter sekitar 3 cm, tersedia dalam dua varian yakni cilok dan cilok tahu. Tak seperti cilok pada umumnya yang menggunakan banyak pilihan sambal, Cilok Jadoel hanya punya satu bumbu: saus merah. Saus merah ini punya rasa manis dan pedas.
“Ketika dipadu dengan cilok, rasanya manis, pedas, dan gurih. Banyak yang bilang itu yang bikin nagih,” kata Alfi.
Pilihan Tambahan Kuah
Untuk cabang Tawangmangu, pelanggan bisa memilih tambahan kuah, ini yang tidak bisa ditemui di Pasar Klojen. Kuah itu merupakan campuran cabai bubuk. Untuk pengunjung yang doyan hangat-hangat. Harga Cilok Jadoel pun merakyat yakni Rp 5.000 untuk 15 biji.
Dalam sehari, kios ini bisa didatangi sekitar 25 orang, mulai anak kecil hingga ibu-ibu dan remaja yang kerap bolak-balik membeli. Selebihnya melayani penjualan online. “Kami sering aktif bikin Instagram dan TikTok. Banyak yang datang gara-gara lihat video,” ujarnya sambil tertawa.
Tidak hanya pembeli eceran, banyak juga yang membeli berondongan untuk sebuah acara. Ifa mengatakan banyak yang membeli dalam porsi besar.
“Kami ambil 25 kresek setiap hari dari Lawang. Satu kresek isi 50 biji. Total 1.250 biji. Seringnya habis, kalau sisa paling satu kresek saja,” terangnya.
Ruang Hangat dan Nostalgia
Meski hanya 4 x 7 meter, ruang itu menjadi tempat singgah orang-orang yang rindu rasa masa kecil. Anak-anak duduk di kursi plastik sambil menikmati cilok lembut, para ibu mengobrol di sofa kecil, remaja sibuk membuat konten, sementara suara gemericik kuah pedas menambah suasana hangat.
Di tengah hiruk pikuk pasar, kios Cilok Jadoel menjadi bukti bahwa makanan sederhana, asal dibuat dengan rasa, tradisi, dan sedikit nostalgia bisa membuat siapa saja kembali lagi. Momentum Ramadan patut juga dirayakan di tempat ini.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











