Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Prof Nasaruddin Umar: Mengelola Tabungan Spiritual

Cerita tentang Adam dan Hawa serta Pelajaran yang Terkandung

Perkawinan antara Adam dan Hawa melahirkan beberapa anak kembar dengan jenis kelainan berpasangan. Anak pertama mereka adalah Habil dan kembar perempuannya, lalu diikuti oleh sepasang anak kembar lainnya yaitu Qabil dan kembar perempuannya.

Menurut ketentuan yang berlaku, Habil seharusnya dijodohkan dengan kembaran Qabil dan Qabil dijodohkan dengan kembaran Habil. Namun Qabil menolak ketentuan tersebut karena merasa pasangan Habil tidak secantik gadis kembarannya. Kecemburuan, kebencian, dan dendam mulai merasuk dalam diri Qabil. Di sisi lain, Habil menunjukkan budi baik dan kearifan yang tinggi.

Kakak beradik ini juga memilih profesi dan karakter yang berbeda. Habil memilih menjadi petani sedangkan Qabil memilih beternak hewan. Ketika keduanya diminta untuk memberikan zakat dan infak, Habil mempersembahkan hasil tanaman berkualitas tinggi, sedangkan Qabil mempersembahkan hewan yang kurus dan kecil.

Akhirnya, Tuhan menerima persembahan Habil dan menolak persembahan Qabil. Tentu saja orang tua mereka, Adam dan Hawa, lebih menghormati perilaku Habil dibandingkan Qabil yang sering kali menunjukkan perbuatan tidak terpuji.

Kebencian dan kecemburuan yang terus-menerus menggerogoti hati Qabil akhirnya membuatnya memiliki niat buruk untuk membunuh kakaknya, Habil. Hasilnya, Qabil mengambil batu besar dan memukulkan ke kepala Habil sehingga Habil jatuh dan meninggal. Inilah pembunuhan pertama dalam sejarah kemanusiaan.

Setelah terbunuh, Qabil bingung bagaimana langkah selanjutnya. Ia terinspirasi oleh burung gagak yang menguburkan anaknya yang sudah mati. Dari sini, kita bisa belajar bahwa Habil simbol dari orang yang memiliki tabungan spiritual (spiritual saving) yang selalu dikontrol dengan baik. Ia memiliki perilaku ideal seperti jujur, tawadhu, sabar, taat beribadah kepada Tuhan, dan menghormati orang tua. Sedangkan Qabil simbol dari orang yang memiliki saldo minus dalam spiritual saving. Ia memiliki sifat-sifat buruk seperti egois, curang, dikuasai hawa nafsu, jauh dari Tuhan, dan rela mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi.

Pengalaman Lain dalam Kehidupan

Dalam suatu hikayat lain, ada seorang ahli ibadah muda yang aktif membantu warga disayangi oleh seorang ahli ma’rifah. Ahli ma’rifah itu melihat bahwa pemuda tersebut akan mati keesokan harinya akibat tertimpa meteorit raksasa yang akan jatuh ke bumi dan menimpa rumahnya.

Namun, dua hari kemudian, pemuda itu masih hidup dan aktif membantu warga. Sang pemuda tersenyum melihat keheranan ahli ma’rifah dan berkata, “Tuan tidak perlu kaget, apa yang tuan lihat kemarin itu benar-benar terjadi. Meteorit raksasa itu jatuh menimpa rumah saya, tetapi sebelum sampai ke bumi, ia hancur berkeping-keping. Yang jatuh ke atap rumah saya hanya debunya.”

Ahli ma’rifah kembali kaget setelah mendengar penjelasan pemuda itu. Dari mana dia tahu bahwa ia mengetahui rahasia Tuhan? Bagaimana dia tahu apa yang ada di pikirannya? Pemuda itu menjawab, “Wahai ustadz, anda tidak perlu kaget. Saya juga menyaksikan apa yang anda lihat, dan saya memahami wujud yang anda bayangkan terhadap saya jika batu itu tidak berubah menjadi tepung.”

Dari cerita ini, kita belajar bahwa ibadah yang ditekuni oleh pemuda tersebut melindunginya dari bahaya besar. Dengan demikian, social and spiritual saving adalah tolak bala yang paling efektif.

Pelajaran yang Diperoleh

Dua cerita di atas memberikan pengalaman berharga bagi kita bahwa hidup ini harus ditempuh dengan kejujuran agar bisa meraih ketenangan. Kita tidak boleh memandang enteng secara spiritual orang-orang yang masih muda secara biologis, karena bisa saja usia spiritualnya sudah matang. Sebaliknya, belum tentu orang yang tua secara biologis memiliki usia spiritual yang matang.

Orang yang dipilih Tuhan sebagai wali diberi kemampuan untuk mengakses alam gaib. Langkah-langkahnya mungkin tidak bisa difahami, tetapi di kemudian hari menjadi terkenal karena orang-orang pilihan Tuhan seringkali mendahului usia biologisnya. Keajaiban yang diberikan Tuhan kepada orang yang dipilih-Nya tidak tertutup kemungkinan kita pun bisa meraihnya.

Namun jika tidak, maka kita tidak perlu berkecil hati karena Tuhan telah menurunkan banyak jalan untuk mendekati dirinya. Mungkin bukan jalur wali, tetapi jalur lain yang tak kalah pentingnya di mata Tuhan. Yang pasti, kita harus memiliki salah satu keistimewaan agar ada pintu masuk bagi kita untuk meraih kasih sayang Tuhan. Allahu a’lam.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *