Anak Balita dan Kecerdasan Emosional yang Menarik
Anak balita sering kali mengucapkan kalimat yang tidak terduga, bahkan nyeleneh. Jika Ayah/Bunda pernah mendengar hal tersebut, itu bisa menjadi tanda bahwa anak sedang berkembang dengan baik. Mereka mulai memahami dunia sekitarnya melalui kata-kata dan perilaku yang mereka lihat.
Empat kata ajaib: “Maaf”, “Permisi”, “Tolong”, dan “Terima kasih” dianggap sangat penting oleh para ahli parenting. Kata-kata ini bisa mengubah cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, baik secara positif maupun negatif. Bagi orang tua, mengajarkan empat kata ini adalah bagian dari proses membentuk karakter anak.
Orang dewasa, apa pun profesi mereka, pasti mengharapkan anak-anak mereka terbiasa menggunakan kata-kata sopan. Hal ini menjadi indikator utama bahwa seseorang memiliki sikap santun dan menghargai orang lain. Jika tidak, anak bisa disebut “kurang ajar”, “tidak tahu tata krama”, atau “nakal”.
Guru, terutama guru honorer, memiliki tanggung jawab besar dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti ini. Namun, sebenarnya orang tua adalah pihak pertama yang harus mengajarkan sopan santun kepada anak sebelum masuk sekolah. Sayangnya, banyak guru honorer menghadapi tantangan seperti gaji yang tidak layak, meskipun mereka bertanggung jawab untuk menciptakan generasi masa depan.
Kembali ke empat kata ajaib. Dalam keluarga saya, istri dan saya sepakat untuk mengajarkan sopan santun kepada anak balita kami. Kami percaya bahwa sikap yang baik lebih penting daripada pengetahuan semata. Bayangkan, jika anak pintar tetapi tidak sopan, ia bisa menjadi koruptor di masa depan.
Misalnya, ketika anak meminta sesuatu, seperti buku di rak atau makanan, kita akan memintanya mengucapkan “Tolong”. Awalnya, dia menurut, tapi belakangan ini dia mulai enggan. Meski tidak sabar, dia akhirnya mengulangi kata “tolong” karena ingin memenuhi keinginannya.
Pada kesempatan lain, saat anak bermain dan tanpa sengaja menyenggol barang atau memukul ibunya, kami memintanya mengucapkan “Maaf”. Tindakan ini juga membantu memperkuat ikatan antara orang tua dan anak.
Suatu sore, saat kami sedang santai di rumah, anak meminta minum vitamin berbentuk permen, padahal paginya sudah minum. Kami menolak. Dia merengek dan marah, lalu tiba-tiba berkata, “Papa, Ayo Kamu Minta Maaf Sama Aku!” Ini membuat saya terkejut. Bagaimana mungkin anak balita ini meminta orang tuanya minta maaf?
Saya adalah guru di sekolah swasta terkenal. Saya tidak melakukan kesalahan, jadi mengapa saya harus minta maaf? Saya tidak anti mengucapkan “maaf”, karena saya sudah bebas dari luka masa lalu. Saya siap minta maaf bahkan kepada orang yang lebih kecil, seperti murid, anak, atau adik.
Di usia anak saya saat ini, ia mudah meniru perkataan dan tindakan dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, saat bermain dengan teman-temannya, termasuk tiga anak laki-laki di sebelah rumah, ia mulai bergabung dalam kelompok bocil. Di rumah temannya atau kakak sepupunya, ia juga memiliki akses ke TV atau YouTube, sehingga melihat berbagai video.
Itu sebabnya, tidak heran jika anak saya mengucapkan kalimat yang nyentrik seperti itu. Bagaimana respons saya? Saya menjelaskan bahwa dia sudah minum vitamin tadi dan hanya boleh satu kali sehari. Saya minta maaf, bukan karena salah, tapi untuk memberi teladan. Saya ingin dia tahu bahwa kami menghargai perasaannya, meskipun dia belum sepenuhnya memahami arti kata-kata yang diucapkannya.
Kami berharap anak bisa melihat contoh yang baik dari orang tuanya. Jangan sampai menjadi orang tua yang menua dengan kepahitan, sehingga anti mengucapkan “maaf” jika melakukan kesalahan. Apakah Ayah/Bunda pernah diminta minta maaf oleh anak?











