Peran Perempuan di Dunia Teknologi
Stigma bahwa teknologi adalah dunia laki-laki masih menjadi penghalang utama bagi keterlibatan perempuan dalam sektor digital. Hal ini disampaikan oleh Shinta Witoyo Dhanuwardono, pendiri Bubu.com, saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi . Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade di industri teknologi, Shinta menilai tantangan tersebut berasal dari pola pikir, bukan keterbatasan kemampuan.
Shinta memulai perjalanan di dunia digital sejak 1996, ketika internet belum dikenal luas di Indonesia dan ekosistem teknologi masih belum terbentuk. Latar belakang pendidikan arsitektur tidak menghalanginya untuk terjun ke dunia teknologi setelah ia mengenal World Wide Web saat menempuh studi magister bisnis di Amerika Serikat dan bekerja di laboratorium komputer Portland State University.
“Waktu itu saya melihat dengan mata sendiri internet itu dahsyat. Saya jatuh cinta karena bisa belajar sendiri bagaimana membuat website melalui internet, dan itu sudah menjadi game changer,” ujarnya.
Pengalaman awal tersebut membentuk keyakinannya bahwa teknologi adalah alat pembelajaran dan pemberdayaan. Sepulang ke Tanah Air, ia mendirikan Bubu bersama sejumlah mitra yang memiliki visi serupa, memperkenalkan teknologi digital sebagai sarana mengubah cara kerja dan cara berpikir. Perjalanan tersebut tidak selalu mulus, terutama saat krisis dot-com awal 2000-an yang memaksanya menutup lebih dari lima perusahaan rintisan.
Tekanan dan kegagalan berulang justru menguatkan pandangannya tentang ketangguhan perempuan di dunia teknologi. Shinta menilai perempuan memiliki kapasitas untuk mengelola kompleksitas, termasuk bisnis, keluarga, dan peran sosial, ketika teknologi dimanfaatkan secara tepat.
“Perempuan sebenarnya bisa banyak menggunakan teknologi untuk membantu meringankan pekerjaan sehari-hari. Bukan hanya mengelola perusahaan, tapi juga mengelola semuanya, termasuk keluarga,” kata pendiri Nusantara Ventures itu.
Ia menilai persepsi teknologi sebagai ranah yang rumit dan maskulin kerap membuat perempuan enggan mendekat. Padahal, kemajuan teknologi justru menyederhanakan banyak proses. Media sosial, e-commerce, dan kecerdasan buatan membuka ruang luas bagi perempuan untuk berbisnis, membangun personal branding, serta menciptakan nilai tanpa batasan ruang dan waktu.
Kepemimpinan Digital dan Adaptasi
Dalam praktik kepemimpinan digital, Shinta menekankan pentingnya kemauan belajar tanpa henti, kreativitas, dan keberanian beradaptasi. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut pemimpin bersikap luwes sekaligus berani mengambil risiko ketika model lama tidak lagi relevan.
Pandangan tersebut tercermin dari transformasi Bubu menjadi Cultural Intelligence Agency setelah tiga dekade beroperasi. Pendekatan berbasis pemahaman kultur dan komunitas dipadukan dengan teknologi, termasuk pemanfaatan AI melalui divisi KisahVisual.ai untuk membantu pelaku usaha kecil membangun cerita merek secara efisien.
Shinta menilai kecerdasan buatan tidak perlu diposisikan sebagai ancaman. Di industri kreatif, AI justru membuka peluang model bisnis baru dan memperluas peran manusia selama teknologi dikendalikan sebagai alat.
“Internet tetap tool, AI tetap tool. Kita yang harus mengoperasikan dan mengendalikan, lalu mengambil manfaatnya,” ujarnya.
Refleksi tentang peran perempuan di dunia teknologi juga berakar dari sejarah keluarganya. Shinta menyebut Eyang Supeni, diplomat perempuan Indonesia pada era Presiden Soekarno yang memimpin delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB pada 1960, sebagai salah satu sumber inspirasi. Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa tidak ada batasan peran berdasarkan gender.
Menurut dia, keunggulan perempuan terletak pada soft power seperti empati dan kemampuan melakukan banyak peran sekaligus. Ketika dipadukan dengan teknologi, kelebihan tersebut meningkatkan nilai dan daya saing perempuan di ruang digital yang semakin kompetitif.
Evolusi Bubu: Dari Pengembang Web ke Cultural Intelligence Agency
Teknologi, dalam pandangan Shinta, seharusnya menjadi sarana pembebasan, bukan pembatas. Selama perempuan berani belajar dan memanfaatkan teknologi, stigma “dunia laki-laki” akan runtuh oleh praktik dan capaian nyata.
Shinta Witoyo Dhanuwardono, mendefinisikan Bubu sebagai Cultural Intelligence Agency. Setelah tiga dekade berkiprah di industri digital Indonesia, ia melihat Bubu telah berevolusi dari sekadar pengembang web menjadi agensi yang bertumpu pada pemahaman budaya lintas komunitas dan industri.
Shinta menjelaskan, kedekatan Bubu dengan berbagai ekosistem, mulai dari fesyen, gim, esports, hingga gaya hidup, membentuk pendekatan bisnis yang menempatkan kultur sebagai fondasi strategi branding. Pengalaman panjang sejak 1996 membuat Bubu terbiasa membaca dinamika komunitas yang terus berubah seiring perkembangan teknologi.
“Bubu itu kita definisikan sebagai Cultural Intelligence Agency sekarang. Kita dekat dan mengerti berbagai macam industri, dan setiap industri punya komunitas serta kultur sendiri. Dari situlah Bubu bekerja, dari sisi branding yang dibutuhkan,” ujar pengusaha Wanita yang juga pendiri Nusantara Ventures ini.
Pendekatan berbasis kultur tersebut tidak terlepas dari perjalanan awal Shinta yang jatuh cinta pada internet saat menempuh studi magister bisnis di Amerika Serikat (AS). Pengalaman bekerja di laboratorium komputer Portland State University pada pertengahan 1990-an membawanya bersentuhan langsung dengan World Wide Web yang kala itu masih sangat baru. Dari ruang itulah ia belajar membuat situs web secara otodidak dan melihat internet sebagai medium yang mengubah cara belajar dan bekerja.
Keyakinan tersebut ia bawa pulang ke Indonesia dan melahirkan Bubu pada 1996, jauh sebelum ekosistem digital terbentuk seperti sekarang. Dalam perjalanannya, Bubu tidak hanya bergerak di pengembangan web, tetapi juga terlibat dalam berbagai inisiatif digital, mulai dari portal konten, layanan daring, hingga pengembangan komunitas.
Memasuki era industri kreatif dan gim, Bubu turut merambah ranah lifestyle esports melalui Todak Nusantara, perusahaan hasil kemitraan dengan pihak Malaysia. Fokusnya bukan semata kompetisi, melainkan pengembangan produk dan gaya hidup pendukung ekosistem esports, seperti kursi gim yang diproduksi secara lokal.
“Culture itu ada di mana-mana. Mau bicara fesyen, esports, sneaker, semuanya punya komunitas. Karena sudah 30 tahun, Bubu dekat dengan semua itu, dan di situlah kami memposisikan diri,” kata Shinta.
Perjalanan panjang tersebut juga diwarnai fase sulit. Shinta mengungkapkan pernah menutup lebih dari lima perusahaan pada periode 2001–2002 saat gelembung dot-com pecah. Keterbatasan pendanaan dan belum hadirnya modal ventura kala itu memaksa seluruh usaha dijalankan dengan dana sendiri, sekaligus menjadi pelajaran penting dalam membangun ketahanan bisnis.
Di tengah perubahan teknologi yang kian cepat, Shinta menilai kepemimpinan digital menuntut keberanian untuk beradaptasi dan mengambil risiko. Kreativitas, inovasi, serta kemauan belajar tanpa henti menjadi prasyarat agar organisasi tetap relevan menghadapi gelombang baru, termasuk kecerdasan buatan.
Sejalan dengan itu, Bubu mulai memanfaatkan AI melalui pengembangan divisi KisahVisual.ai untuk membantu pelaku usaha kecil membangun cerita merek dengan biaya lebih efisien. Bagi Shinta, teknologi tetap harus dikendalikan manusia agar memberi nilai tambah, bukan menggantikan peran kreatif.
Transformasi Bubu menjadi Cultural Intelligence Agency mencerminkan cara pandang tersebut: teknologi dipadukan dengan pemahaman mendalam atas manusia dan komunitas. Selama budaya terus bergerak, Shinta melihat ruang bagi Bubu untuk tetap relevan di tengah lanskap digital yang berubah cepat.











