Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

3 Alasan Pesawat Gagal Mendarat di Bandara Ketapang pada Desember 2025

Bandara Rahadi Oesman Ketapang Kembali Jadi Perhatian Akibat Gagal Mendarat Pesawat Wings Air

Bandara Rahadi Oesman di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian setelah pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 1344 gagal mendarat pada Kamis 11 Desember 2025 sore WIB. Pesawat yang bertipe ATR 72 ini terpaksa kembali ke Pontianak karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Kepala Kantor UPBU Kelas II Rahadi Oesman, Dwi Muji Raharjo menjelaskan bahwa jarak pandang yang sangat terbatas membuat pilot memilih untuk melakukan return to base (RTB).

“Kondisi cuaca saat itu hujan deras dan jarak pandang sangat terbatas. Pesawat kembali ke Pontianak. Setelah mendapat informasi dari BMKG bahwa dalam dua jam kondisi tidak membaik, maskapai memutuskan menunda penerbangan hingga besok pagi,” jelasnya dikonfirmasi pada Jumat 12 Desember 2025.

Gagal mendaratnya pesawat Wings Air IW 1344 bukanlah pertama kalinya terjadi di Bandara Rahadi Oesman Ketapang bulan Desember ini. Dwi Muji mengungkapkan bahwa sudah hampir tiga kali terjadi kondisi serupa.

“Desember ini sudah dua sampai tiga kali terjadi kondisi serupa. Polanya sama, cuaca ekstrem dan jarak pandang memburuk,” katanya.

Soal penerbangan IW 1344, Dwi menyebut bahwa pihak bandara telah memberikan perpanjangan jam operasional hingga pukul 18.00 WIB untuk memberi peluang pesawat mendarat. Namun hujan lebat dan angin kencang tidak kunjung mereda.

“Izin extend sudah kami keluarkan sampai pukul 18.00 WIB. Tetapi hujan tidak berhenti dan angin cukup kencang, sehingga pesawat kembali ke Pontianak,” ujarnya.

Ia menambahkan, Bandara Rahadi Oesman memiliki fasilitas bantu pendaratan visual sesuai standar pesawat ATR. Namun jika jarak pandang minimum tidak terpenuhi, pendaratan mustahil dilakukan.

“Kami punya alat bantu visual, tetapi ada batasannya. Kalau pilot tidak bisa melihat runway, tidak bisa dipaksakan mendarat. Itu sangat berbahaya,” tegasnya.

Menurutnya, koordinasi dengan maskapai, BMKG, dan tower ATC berjalan baik dalam pengambilan keputusan penundaan penerbangan. Terkait kompensasi bagi penumpang, Dwi menegaskan aturan sudah jelas kompensasi hanya berlaku jika keterlambatan disebabkan pihak maskapai, sedangkan faktor cuaca tidak ada kompensasi.

Pengalaman Penumpang Saat Pesawat Gagal Mendarat

Satu di antara penumpang, Yogi Saputra (32), mengungkapkan detik-detik tegang saat pesawat Wings Air IW 1344 berputar di udara Ketapang pada Kamis 11 Desember sore WIB itu.

“Pesawat coba landing, tapi gagal. Bahkan sudah sejajar tower bandara, tiba-tiba naik lagi. Di atas sudah entah berapa kali berputar,” kata Yogi saat dikonfirmasi TribunPontianak, Kamis 11 Desember malam.

Ia mengatakan pesawat berangkat dari Pontianak sekitar pukul 14.55 WIB dalam cuaca cerah. Namun mendekati Ketapang, situasi berubah drastis.

“Penumpang hampir penuh, sekitar 90 persen. Pesawat sempat goyang-goyang karena angin kencang. Jujur saja, kami khawatir,” tambahnya.

Setelah pesawat kembali ke Pontianak, Yogi menyebut para penumpang mendapat informasi bahwa penerbangan dijadwalkan ulang pada Jumat 12 Desember 2025. Namun ia dan penumpang lain mengaku kecewa karena tidak ada kompensasi dari maskapai, termasuk fasilitas penginapan.

“Kami tanya minimalnya penginapan, tapi maskapai tetap tidak kasih. Alasannya karena pesawat sudah sempat terbang dan gagal mendarat akibat cuaca, jadi tidak ada kompensasi,” ujarnya.

Selain Yogi, terdapat penumpang lain bernama Imam (25) yang juga berada di dalam pesawat tersebut. Ia mengaku momen ketika pesawat hampir mendarat terasa sangat jelas, namun tiba-tiba pesawat kembali naik.

“Rodanya sudah terasa mau menyentuh landasan, getarannya juga sudah kuat. Tapi pesawat malah naik lagi, katanya karena cuaca buruk,” jelas Imam.

Imam mengatakan ia dijadwalkan kembali terbang menuju Ketapang pada keesokan harinya sekitar pukul 06.00 WIB.

“Sekarang saya kembali ke Pontianak dan dijadwalkan berangkat lagi besok pukul 06.00 WIB,” tuturnya.

Akibat insiden ini, sejumlah penumpang terpaksa mencari tempat menginap secara mandiri, baik di rumah kerabat maupun di penginapan sekitar bandara. Hingga berita ini diturunkan, TribunPontianak belum menerima konfirmasi resmi dari pihak maskapai maupun otoritas bandara terkait penanganan penumpang setelah penerbangan gagal mendarat tersebut.


Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *