Peran Suami sebagai Pendukung Istri dalam Menghadapi Tekanan Menjadi Ibu
Perempuan sering kali menghadapi tekanan batin yang tidak terlihat, termasuk perasaan gagal menjadi seorang ibu. Meskipun mereka telah berusaha keras untuk merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, ada momen ketika rasa percaya diri mulai goyah. Di balik senyuman yang terlihat tulus saat bersama anak, seorang istri mungkin sedang bertarung dengan keraguan internal bahwa ia tidak cukup baik sebagai ibu.
Di tengah situasi ini, kehadiran suami menjadi kunci penting dalam membantu istrinya melalui masa-masa sulit. Ini adalah kisah tentang Iky (27) dan Kartika (28), pasangan yang saling mendukung dalam menjalani peran sebagai orang tua.
“Ketika Kartika merasa tidak baik sebagai ibu, aku selalu meyakinkannya bahwa keputusan memiliki anak adalah kemauan bersama. Apa pun yang terjadi, kami jalani bersama,” ujar Iky saat dihubungi.
Masalah yang Dihadapi Kartika
Salah satu penyebab Kartika merasa gagal sebagai ibu adalah karena usaha yang dilakukannya selama kehamilan dinilai belum maksimal. Anak mereka, Baskara, lahir prematur, sehingga setiap kali Baskara sakit, Kartika cemas dan merasa bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh kelahirannya yang prematur.
Selain itu, Kartika juga merasa bersalah ketika harus menitipkan anak kepada orang lain saat ia masih bekerja. Ia merasa tidak bisa mengurus anak tanpa bantuan orang tua, yang membuatnya semakin merasa tidak mampu.
Dukungan dari Iky
Iky secara aktif mendampingi Kartika dalam menghadapi berbagai tekanan. Salah satu contohnya adalah ketika terjadi perbedaan pandangan antara Kartika dan ibunya mengenai pengasuhan anak. Misalnya, soal penggunaan baby walker yang sering dipertanyakan oleh orang tua.
“Seringkali ada perbedaan pandangan antara generasi dulu dan sekarang. Contohnya, orang melihat baby walker sebagai hal yang tidak perlu. Tapi bagi yang langsung mengalaminya, itu beda,” jelas Iky.
Untuk menenangkan istrinya, Iky selalu menyarankan agar Kartika tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain. Ia yakin bahwa yang lebih memahami dinamika keluarga dan perkembangan Baskara adalah dirinya dan Kartika sendiri.
Masalah Lain yang Datang dari Keluarga Besar
Masalah lain yang datang dari keluarga besar Iky adalah soal akikah. Meski Iky dan Kartika memahami keinginan ibu mertua untuk segera melakukan proses akikah, mereka memutuskan untuk menunda karena beberapa pertimbangan. Namun, Iky tetap memberikan dukungan emosional kepada Kartika dalam situasi ini.
Menjadi Pendengar yang Baik
Selain menjadi pendukung dalam masalah pengasuhan, Iky juga menjadi pendengar yang baik bagi Kartika. Ia memahami bahwa menjadi ibu sudah cukup berat, apalagi jika juga harus menjadi IRT dan menghadapi tekanan dari dalam rumah.
“Aku jadi tempat dia curhat. Kadang tidak semua istri mau cerita ke suaminya. Aku dengarkan cerita soal kesehariannya, apa saja tekanannya. Pokoknya aku jadi tempat dia mengeluarkan semua emosinya,” ujar Iky.
Ketika semua perasaan negatif sudah dikeluarkan, Kartika bisa kembali fokus pada perannya sebagai ibu. Bahkan, Iky sering mengajaknya jalan-jalan, seperti memesan cilok atau kopi, agar suasana hatinya kembali ceria.
Pesan untuk Kartika
Iky mengaku sangat bangga dengan Kartika karena telah berjuang keras dalam mengandung, melahirkan, dan merawat anaknya. Ia tidak bisa menyampaikan pesan dengan kata-kata, hanya ingin meluk dan mengucapkan terima kasih serta maaf.
Iky merasa belum bisa menghabiskan banyak waktu bersama Baskara, karena tuntutan pekerjaan dan kebutuhan keluarga. Namun, ia yakin bahwa ia dan Kartika sama-sama berkorban, meski dalam bentuk yang berbeda.
“Kami sama-sama berkorban, cuma dari sisi yang berbeda, dengan porsi yang sama,” tutur Iky.
Ia berharap bisa terus memberikan dukungan penuh kepada Kartika sebagai istri dan Baskara sebagai anak. “Aku terima kasih banyak-banyak, dan mohon maaf belum bisa memberikan yang terbaik untuk Kartika dan Baskara,” pungkas Iky.











