Kehidupan Korban Perundungan di SMA Pertiwi 2 Padang
Korban perundungan yang terjadi di SMA Pertiwi 2, Kota Padang, kini tengah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Sejak awal April 2026, korban mengalami trauma yang memengaruhi perilaku dan kehidupannya sehari-hari. Ia juga diancam dengan kapak oleh pelaku, sehingga kondisi psikologisnya semakin memburuk.
Korban berhasil lulus jalur SNPMB di Universitas Andalas, jurusan Sastra Indonesia. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Perubahan drastis mulai terlihat setelah ia diduga menjadi korban perundungan di sekolah. Kata-kata ejekan seperti “nasi goreng”, “mata juling”, “gigi ompong”, dan “anak yatim” membuatnya merasa tertekan. Beberapa kali, ia bahkan menyampaikan keinginan untuk mengubah bentuk gigi karena tekanan dari lingkungan sekolah.
Ibu korban, Muswan Tiara (37), mengungkapkan bahwa anaknya selama ini dikenal sebagai anak yang pendiam, mandiri, dan tidak pernah menyusahkan orang tua. Meski hidup dalam kesulitan ekonomi, ia tetap berusaha membantu kebutuhan keluarga dengan bekerja sampingan. Namun, keadaan berubah drastis setelah ia mengalami perundungan.
Tiara mengatakan bahwa kehilangan sosok ayah saat masih duduk di bangku SMP membuatnya harus membesarkan tiga anak sendirian. Meski begitu, anak sulungnya tetap menjalani kehidupan dengan baik. Keberhasilannya menembus SNPMB 2026 di Universitas Andalas adalah prestasi yang membanggakan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena perubahan perilaku yang muncul setelah perundungan.
Penanganan Kasus oleh Polisi
Satreskrim Polresta Padang tengah menyelidiki dugaan kasus perundungan yang terjadi di SMA Pertiwi 2, Sumatera Barat. Penyelidikan dilakukan setelah adanya laporan dari keluarga korban serta beredarnya video yang diduga memperlihatkan kejadian tersebut. Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, mengatakan pihaknya saat ini masih dalam tahap awal penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak.
“Laporan sudah kami terima. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari beberapa pihak,” ujarnya, Kamis (9/6/2026). Menurutnya, kepolisian akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk dari lingkungan sekolah, guna mendalami dugaan peristiwa tersebut.
Yasin menambahkan, proses penyelidikan masih berjalan sehingga pihaknya belum dapat merinci jumlah saksi yang telah diperiksa. Ia memastikan perkembangan kasus akan disampaikan secara berkala. Selain itu, polisi juga memperhatikan kondisi korban yang saat ini dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan.
Tanggapan Sekolah
Video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2, Sumatera Barat (Sumbar) viral di media sosial dan memicu perhatian publik. Dalam video tersebut, terlihat pihak sekolah, orang tua korban, serta empat siswa yang diduga terlibat. Keluarga korban tampak emosional saat menyampaikan kondisi anaknya yang disebut mengalami gangguan psikis akibat dugaan perundungan.
Menanggapi hal itu, Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, menyatakan pihak sekolah belum dapat membenarkan tudingan perundungan tersebut dan masih melakukan penelusuran. “Kami tidak serta-merta menerima tuduhan itu. Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, peristiwa dalam video bermula saat pihak keluarga datang ke sekolah dalam kondisi emosi, sehingga terjadi perdebatan yang kemudian direkam dan beredar di media sosial. “Kami sempat menyarankan agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan, namun belum ada kesepakatan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Pertiwi 2 Padang, Desi Nofita Sari, mengatakan pihak sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak. “Kami memiliki empati besar, baik kepada siswa yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Saat ini kami masih dalam tahap penelusuran fakta secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah telah mengambil sejumlah langkah, di antaranya menghubungi keluarga korban, mendatangi siswa terkait, serta berdiskusi dengan orang tua dari siswa yang disebut terlibat. “Kami tidak diam. Semua pihak kami hubungi dan kami lakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian ini,” katanya.
Terkait dugaan perundungan, Desi menyebut pihak sekolah belum dapat memastikan kebenarannya karena proses penelusuran masih berlangsung. “Informasi yang ada saat ini belum lengkap. Kami tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu sisi saja. Semua pihak harus menyampaikan fakta secara adil,” ujarnya.
Tindakan Pemerintah Daerah
Kadisdik Sumbar Tegaskan Zero Tolerance Perundungan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah. Pernyataan itu disampaikan menyusul viralnya video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang dan menjadi perhatian publik.
“Tidak ada toleransi untuk perundungan di sekolah. Kami akan memantau kasus ini melalui mekanisme yang ada,” ujar Habibul Fuadi saat dihubungi, Rabu (8/4/2026). Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari pihak sekolah, kemudian dilanjutkan oleh pengawas satuan pendidikan guna memastikan penyelesaian berjalan objektif dan kejadian serupa tidak terulang.
“Ada mekanisme berjenjang. Sekolah terlebih dahulu melakukan penanganan, lalu diawasi oleh pengawas satuan pendidikan. Ini penting agar pembinaan berjalan maksimal,” katanya. Menurutnya, peran guru dalam mendidik siswa sangat kompleks, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan.
“Namanya mendidik tidak bisa sekali jadi. Orang dewasa saja masih banyak yang melakukan kesalahan, apalagi anak-anak. Di sinilah peran guru sangat berat,” ujarnya. Habibul menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan di seluruh sekolah di Sumbar agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Kami minta seluruh kepala sekolah meningkatkan pembinaan kepada siswa. Perundungan tidak boleh terjadi di mana pun karena dampaknya merugikan semua pihak,” tegasnya.
Kondisi Korban dan Tantangan yang Dihadapi
Saat ini, korban dikabarkan tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang dan belum dapat ditemui. Ia masih diliputi ketakutan, terutama saat harus berinteraksi dengan orang baru. Meski begitu, ia masih mau makan ketika diberi.
Di balik segala keterbatasan, Tiara hanya berharap satu hal sederhana agar anaknya bisa pulih dan kembali menjalani hidup seperti semula, melanjutkan mimpi yang sempat ia raih, menjadi mahasiswa di kampus impiannya.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menangani persoalan tersebut secara adil. 
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











