Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Sarwendah Sering Menangis, Bukan Karena Ruben Onsu dan Giorgio Antonio

Kesedihan yang Masih Menghiasi Perayaan Imlek Sarwendah

Sarwendah, penyanyi ternama di Indonesia, masih sering menangis meski waktu terus berlalu. Namun, air mata yang ia tumpahkan bukanlah akibat perasaan sedih terhadap kekasihnya atau suami keduanya, Giorgio Antonio, melainkan karena rindu terhadap ayahnya yang telah meninggal dunia, Hendrik Lo.

Perasaan duka masih sangat kuat dalam hidup Sarwendah. Meskipun rutinitas harian harus dilanjutkan, kehadiran sang ayah tetap menjadi ruang kosong yang sulit tergantikan. Hal ini diungkapkan oleh Sarwendah saat ditemui di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Selasa (17/2/2026).

Dalam momen Imlek tahun ini, Sarwendah harus menjalani hari raya tanpa kehadiran Yeye, panggilan akrab untuk ayahnya. Menurutnya, Yeye adalah sosok yang selalu membawa keceriaan dan kebahagiaan dalam setiap momen bersamanya. Keberadaannya membuat suasana lebih hidup dan penuh tawa.

“Ya pastilah, mereka juga udah pada bilang pasti kalau ada Yeye lebih heboh lagi, lebih seru lagi, lebih meriah lagi gitu,” ujar Sarwendah.

Karakter Yeye yang ceria dan penuh energi membuat kepergiannya begitu terasa. Tidak hanya hadir secara fisik, Yeye juga membawa semangat positif yang menular kepada orang-orang di sekitarnya.

“Karena kan Yeye orangnya cheerful banget gitu. Jadi ya pasti ada kehilangan gitu, tapi ya itu tetap harus dijalani kan,” katanya.

Sedihnya, kesedihan tersebut kerap muncul ketika Sarwendah melihat foto-foto lama bersama mendiang ayahnya. Setiap kali kenangan itu muncul, perasaan sedih kembali menghampiri.

“Aku tiap kali ngelihat foto Yeye masih sangat sedih buat aku gitu. Jadi makanya kadang kalau lagi ngelihat gitu kayak… ‘Yah, ya sudahlah’ gitu,” tutur Sarwendah.

Tradisi Imlek yang Berbeda

Dalam menyambut Imlek, Sarwendah mengaku bahwa tradisi yang selama ini dijalani tidak banyak berubah. Semua masih berjalan seperti biasa, mengikuti kebiasaan lama yang telah mengakar. Namun, satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah perbedaan suasana akibat ketidakhadiran Yeye.

Suasana berbeda nampak di kediaman Sarwendah pada Imlek 2026. Tak seperti biasanya, tak ada dekorasi dan suasana meriah seperti sebelumnya. Sarwendah yang kerap mengundang atraksi barongsai pun memilih untuk tak melakukannya tahun ini.

Bukan tanpa sebab, situasi itu berkaitan dengan masa duka tentang kepergian sang ayah, Hendrik Lo pada 2025 lalu.

“Tahun ini enggak ada perayaan meriah, cuma sederhana sambil makan bersama keluarga,” kata Sarwendah di rumahnya, kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Wanita yang akrab disapa Wenda tersebut bahkan tidak diperbolehkan memakai amplop merah saat memberikan angpao untuk kerabatnya.

“Angpao itu tradisi, tapi tidak boleh pakai amplop warna merah,” kata mantan istri Ruben Onsu ini.

Betrand Peto Juga Merasakan Pilu

Tidak hanya bagi Sarwendah, perayaan Imlek 2026 menjadi momen yang terasa berbeda bagi Betrand Peto. Untuk pertama kalinya, hari raya penuh kehangatan itu harus ia lalui tanpa kehadiran sang kakek tercinta, Hendrik Lo yang telah berpulang.

Kehilangan tersebut meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi, terutama bagi Onyo, sapaan akrab Betrand yang dikenal memiliki ikatan emosional sangat kuat dengan sang kakek yang akrab disapa Yeyeh.

Raut wajah Onyo tak bisa menyembunyikan kerinduan mendalam yang ia rasakan. Ia mengaku, Imlek tahun ini terasa jauh lebih sunyi dan emosional dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Aku kangen banget sama Yeyeh. Dia orang yang paling aku sayang juga. Tahun ini kerasa beda karena enggak ada Yeyeh,” ungkap Onyo.

Untuk mengobati rasa kehilangan tersebut, putra dari Ruben Onsu itu kerap membuka kembali kenangan-kenangan manis bersama Yeyeh. Mulai dari momen bernyanyi hingga berjoget bersama, semua ia simpan rapi dalam ponsel pribadinya.

Tak sembarang disimpan, Onyo bahkan membuat satu folder khusus yang diberi nama penuh makna.

“Aku simpen di folder ‘Love’ videonya,” tuturnya.

Kenangan itu tak sekadar menjadi pengingat, tetapi juga sumber kekuatan baginya. Onyo bahkan mengaku ingin kembali mempelajari lagu-lagu Mandarin yang dulu kerap dinyanyikan Yeyeh, sebagai bentuk kerinduan sekaligus penghormatan.

“Rasanya pengen belajar lagu-lagu Mandarin yang dulu sering dia nyanyiin,” tambahnya.

Tak hanya dikenal sebagai sosok penyayang, Yeyeh juga disebut Onyo sebagai anggota keluarga yang paling gemar berbagi, terutama saat momen Imlek tiba. Tradisi membagikan angpao menjadi salah satu hal yang paling dirindukan Onyo dari sang kakek.

“Pokoknya yang paling gede itu dari Ayah sama Yeyeh,” kata Onyo.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *