Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Lapangan Desa Kemutug Lor Jadi Tujuan Wisata Olahraga

Desa Kemutug Lor: Transformasi Lapangan Menjadi Sumber Pendapatan Asli Desa

BANYUMAS – Hamparan lapangan hijau terbentang rapi seperti karpet panjang. Garis-garis lapangan tampak tegas, dan di tengahnya, anak-anak dan remaja berlarian. Sebagian mengejar bola, sebagian lagi berjalan santai, tertawa, atau sekadar berhenti menikmati udara yang bersih sambil berfoto. Di kejauhan, nampak Gunung Slamet yang menjadi latar keindahan foto yang kadang tertutup awan. Di kaki gunung, rumah-rumah kecil berderet sederhana, menyatu dengan hamparan sawah dan pepohonan. Tidak ada yang berlebihan, semua terasa pas.

Namun kini, lapangan itu bukan lagi sekadar ruang terbuka biasa. Dari lapangan desa sederhana, kawasan ini bertransformasi menjadi fasilitas olahraga berstandar nasional yang viral di media sosial. Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, berhasil mengubah aset desa menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD).

Kepala Desa Kemutug Lor, Sarwono, mengatakan ide pengembangan lapangan berangkat dari keterbatasan anggaran desa. “Awalnya ini hanya lapangan desa seperti biasa. Tapi kami berpikir bagaimana bisa dikembangkan tanpa membebani keuangan desa, sehingga kami menawarkan ke investor,” ujarnya.

Langkah tersebut berbuah kerja sama dengan investor B23 Soccervilled melalui skema sewa-menyewa. Nilai investasi pembangunan lapangan diperkirakan mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar. Melalui skema itu, desa memperoleh PAD dengan potensi bagi hasil sekitar 2–3 persen dari pendapatan operasional.

“Yang dulu tidak menghasilkan apa-apa, sekarang bisa memberikan pemasukan tetap. Bahkan nanti ada tambahan dari persentase operasional,” jelas Sarwono.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut bersifat tahunan dan dapat diperpanjang hingga 15 tahun. Setelah masa kerja sama berakhir, seluruh aset akan menjadi milik desa sepenuhnya.

Lapangan yang dibangun memiliki ukuran 100 x 70 meter dengan rumput sintetis, berbeda dari lapangan desa pada umumnya yang masih menggunakan rumput alami. Sebagian area juga dilengkapi jogging track yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Saat ini, pembangunan telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan rampung pada esok Senin (5/4/2026).

Meski belum resmi dibuka, masyarakat sudah mulai diperbolehkan mengakses secara terbatas karena tingginya antusiasme. “Memang belum dibuka, masih finishing. Tapi karena sudah viral, masyarakat penasaran, jadi kami izinkan dengan pengawasan,” katanya.

Lapangan tersebut dijadwalkan mulai aktif digunakan pada 1 Mei 2026, dengan agenda perdana B23 Soccervilled Cup. Selanjutnya, kegiatan rutin seperti Kades Cup akan digelar pada Juli hingga Agustus mendatang. Untuk akses umum, pengunjung dikenakan tiket masuk sekitar Rp5.000, khususnya untuk penggunaan jogging track. Sementara penggunaan lapangan oleh tim atau kegiatan tertentu akan dikenakan biaya tersendiri.

Konsep Kawasan Ekonomi Terpadu Berbasis Sport Tourism

Tak berhenti pada pengembangan lapangan, Pemerintah Desa Kemutug Lor juga menyiapkan konsep kawasan ekonomi terpadu berbasis sport tourism. Konsep ini menggabungkan fasilitas olahraga dengan potensi wisata alam yang dimiliki desa.

“Di wilayah kami ada sekitar 15 curug yang bisa dikembangkan dan ada embung juga yang lokasinya bersebelahan dengan lapangan. Jadi nanti konsepnya sport tourism, olahraga sekaligus wisata alam,” ungkap Sarwono.

Selain itu, terdapat pula embung yang mulai dikembangkan sebagai daya tarik tambahan, termasuk fasilitas kolam renang anak, meski kontribusinya terhadap PAD masih belum signifikan.

Dampak ekonomi dari pengembangan ini mulai dirasakan masyarakat. Selama proses pembangunan, sekitar 15 hingga 20 warga lokal terlibat sebagai tenaga kerja. Saat ini, masih ada sekitar 10 hingga 12 orang yang bekerja di kawasan tersebut. Tak hanya itu, sekitar 30 pelaku UMKM juga turut meramaikan kawasan, yang mayoritas merupakan warga lokal yang sebelumnya merantau.

“Sekarang hampir tidak ada warga yang merantau. Sekitar 99 persen memilih bekerja di desa sendiri,” kata Sarwono.

Pemerintah desa juga membuka ruang bagi komunitas, termasuk komunitas musik yang rutin tampil setiap akhir pekan. Langkah ini dilakukan untuk mendorong aktivitas positif bagi generasi muda sekaligus menghidupkan kawasan.

Potensi Ekonomi yang Meningkat

Dengan jumlah penduduk sekitar 5.000 jiwa, mayoritas warga Kemutug Lor bekerja sebagai pedagang, wirausaha, dan petani kecil. Saat ini, PAD desa berada di kisaran Rp500 juta per tahun dan diharapkan terus meningkat seiring pengembangan kawasan.

Sarwono menegaskan, tujuan utama dari pengembangan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan membuka akses ekonomi bagi masyarakat desa. “Kesejahteraan itu bukan sekadar bantuan uang, tapi bagaimana masyarakat bisa mendapatkan peluang ekonomi di desanya,” jelasnya.

Salah seorang pengunjung, Kasih Berlian asala Purwokerto mengatakan datang ke Lapangan Kemutug karena penasaran. “Liat di instagram bagus banget viewnya. Tapi sayang banget, sampai sini Gunung Slametnya gak keliatan, padahal pengen foto,” katanya.

Meskipun tidak mendapatkan foto Gunung Slamet sebagai latar gambarnya, tapi ia tetap melakukan aktifitas Joging mengitari lapangan.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *